Puisi

kasihku yang menyepak hatiku

Betapa kini aku hanya bisa memandangmu


dari balik kaca,

...
Berdiri tegak dalam keruntuhan yang

tercipta

Dan sekedar untuk menjamahmu diudara

Menguras tawa juga derai air mata-Sempurna

Episode balada cinta yang mengena-Istimewa

Selamat kasih
Kau berhasil membuatku semakin merasa

tidak berguna

Tapi detik inipun aku masih terlalu sibuk

menulis apapun tentangmu

Menyebut-nyebut kecintaanku padamu

Merangkai harapan atas namamu

Aku terlalu gembira dalam luka mengingat

segalamu

Karena, padamu jua akhir segalanya

Tentang kebencian dan kecintaan

Antara dendam dan pinta

Luka masa lalu yang timbul tenggelam telah

membias pada kelapaanmu akanku
Namun pindar-pindar asmara kian kelam

Menjadi kelabu dalam temaram

Menyatu mencumbui semesta raya

Aku perempuan yang terseok memuja mimpi
Kau dalam sampan pesakitan
berdayung duka kelemahan menerjang ombak

tanpa nyali
Dan berpaling sekali saat aku menjerit

kealpaan

Aku hampir mati merinduimu

Sesak nafasku meratap
Tuhan aku loro bronto, gerah menahan,

nandang wuyung-Katresnan
Mengulum habis warasku

Hidupmu menjelma seribu satu

bayangan dilorong kehidupanku

Mencintaimu adalah elegi tak pasti dalam

simbol-simbol perlawananku dengan puak

alam

Tak kau lihatkah?
Aku yang hampir sekarat menahan rasa yang

terbelah

Remuk pada titik keagungan
Esa dalam tunggal pembenaranku sendiri

atas cintaku padamu