kasihku yang menyepak hatiku
Betapa kini aku hanya bisa memandangmu
dari balik kaca,
...
Berdiri tegak dalam keruntuhan yang
tercipta
Dan sekedar untuk menjamahmu diudara
Menguras tawa juga derai air mata-Sempurna
Episode balada cinta yang mengena-Istimewa
Selamat kasih
Kau berhasil membuatku semakin merasa
tidak berguna
Tapi detik inipun aku masih terlalu sibuk
menulis apapun tentangmu
Menyebut-nyebut kecintaanku padamu
Merangkai harapan atas namamu
Aku terlalu gembira dalam luka mengingat
segalamu
Karena, padamu jua akhir segalanya
Tentang kebencian dan kecintaan
Antara dendam dan pinta
Luka masa lalu yang timbul tenggelam telah
membias pada kelapaanmu akanku
Namun pindar-pindar asmara kian kelam
Menjadi kelabu dalam temaram
Menyatu mencumbui semesta raya
Aku perempuan yang terseok memuja mimpi
Kau dalam sampan pesakitan
berdayung duka kelemahan menerjang ombak
tanpa nyali
Dan berpaling sekali saat aku menjerit
kealpaan
Aku hampir mati merinduimu
Sesak nafasku meratap
Tuhan aku loro bronto, gerah menahan,
nandang wuyung-Katresnan
Mengulum habis warasku
Hidupmu menjelma seribu satu
bayangan dilorong kehidupanku
Mencintaimu adalah elegi tak pasti dalam
simbol-simbol perlawananku dengan puak
alam
Tak kau lihatkah?
Aku yang hampir sekarat menahan rasa yang
terbelah
Remuk pada titik keagungan
Esa dalam tunggal pembenaranku sendiri
atas cintaku padamu
Betapa kini aku hanya bisa memandangmu
dari balik kaca,
...
Berdiri tegak dalam keruntuhan yang
tercipta
Dan sekedar untuk menjamahmu diudara
Menguras tawa juga derai air mata-Sempurna
Episode balada cinta yang mengena-Istimewa
Selamat kasih
Kau berhasil membuatku semakin merasa
tidak berguna
Tapi detik inipun aku masih terlalu sibuk
menulis apapun tentangmu
Menyebut-nyebut kecintaanku padamu
Merangkai harapan atas namamu
Aku terlalu gembira dalam luka mengingat
segalamu
Karena, padamu jua akhir segalanya
Tentang kebencian dan kecintaan
Antara dendam dan pinta
Luka masa lalu yang timbul tenggelam telah
membias pada kelapaanmu akanku
Namun pindar-pindar asmara kian kelam
Menjadi kelabu dalam temaram
Menyatu mencumbui semesta raya
Aku perempuan yang terseok memuja mimpi
Kau dalam sampan pesakitan
berdayung duka kelemahan menerjang ombak
tanpa nyali
Dan berpaling sekali saat aku menjerit
kealpaan
Aku hampir mati merinduimu
Sesak nafasku meratap
Tuhan aku loro bronto, gerah menahan,
nandang wuyung-Katresnan
Mengulum habis warasku
Hidupmu menjelma seribu satu
bayangan dilorong kehidupanku
Mencintaimu adalah elegi tak pasti dalam
simbol-simbol perlawananku dengan puak
alam
Tak kau lihatkah?
Aku yang hampir sekarat menahan rasa yang
terbelah
Remuk pada titik keagungan
Esa dalam tunggal pembenaranku sendiri
atas cintaku padamu