"Lu mau bareng gak ndin?" Tanya dewa
"Barenglah, udah sekalian aku disini."
"Yaudah ayok, ngapai masih duduk disitu?"
"Iyaaaaa bos."
"Ney lu yang bawa, tangan gue, masih gemeteran."
Andin, mengangkap kunci mobil itu dengan sempurna.
Andin dan dewa memang sahabatan sudah lama baik,
buruknya mereka sudah sama-sama taulah.
Tapi terkadang sikap keras kepala dewa dan pendirian yang kadang
Terlalu kokoh membuat andin bete abissss.
Sekali A ya tetap A dan tak 'kan berubah.
"Saran aku ya wa, lebih baik lu kasih tau aulia, tentang penyakit lu itu."
"Jangan, belum saat nyan ndin."
"Jadi kapan wa, kapan? Jangan sampai dia tau duluan. Dia bakal merasa dibohongi wa."
" Dia gak 'kan tau, kalau lu gak kasih tau."
"Bisa aja dia tau, tanpa aku kasih tau."
"Udah nyetir sono, gue mau tidur bentar, lemes gue."
"Kamu kalau dikasih tau gitu dah wa, susah."
Lagi-lagi dewa, membuat andin, jengkel.
Kapan si ini anak berubahnya, sekali-kali dengerin aku kek, lagian yang aku bilang kan juga benar.
Nanti kalau udah bermasalah aja pasti nyesel.
Bukanya lebih baik kan, jika aulia tau dari sekarang, bukan nanti-nanti susah akh ngasih tau nya.
Andin, ngomel-ngomel sendiri dalam hatinya.
10 menit kemudian
Mereka sampai digerbang kampus.
Mesin mobil sudah dimatikan, tapi dewa masih saja molor, andin mengeleng-geleng melihatnya.
"Wa, dewa bangun nyet, udah dikampus ney. Aku mau langsung masuk, kamu mau nunggu aulia dimana?"
"Hmmm.. Disini aja deh, nanti bilang aulia, gue nunggu dimobil."
"Owh ya udah, nanti aku sampaikan. Aku masuk dulu ya."
"Yupz, yang bener belajarnya."
"Beres bang, ehehhee."
Hooooaaammm..
Dewa, mengguap lagi, sisa kantuk masih menghiasi matanya.
Tiba-tiba Kepalanya terasa berat, barang kali akibat tidur yang seiprit tadi.
Jadinya begini gumam nya dalam hati.
Lalu tak lama dari itu aulia muncul, dengan senyum manis nya.
Menyapa kekasih kelaki-lakian nya itu.
"Udah lama sayank.? Tanya aulia
"Ssstt.. Sayang-sayangan dikampus, ini kampus kamu lho, kalau ada yang dengar gemana.?"
"So whaaattt?"
"Huuu dibilangin bandelll, ya udah yuk jalan."
"Andin? Gemana?"
"Andin, pulang sore, nanti kita balik lagi jemput dia."
"Owh ya udah kalau gitu."
Aulia pun masuk kemobil, dan duduk didepan disebelah dewa.
Saat kaca mobil tertutup aulia pun memberi satu kecupan hangat dibibir dewa, dan lumutan lembut.
"Aku sayank kamu." Kata aulia
"Aku juga sayank kamu jelex." Balas dewa sambil mencubit manja idung aulia.
Dan mesin mobil dihidupkan, dan siap untuk dikemudikan kemana pun.
"Kemana kita sayank."
"Maunya?"
"Hmm.. Kamu udah makan belum?"
"Belum, aku kan nunggu kamu. Makan bareng."
"Halaaaah.. Sekarang makan bareng, entar udah tua ogah-ogahan."
"Ikh kaga yeeeee, mau nya tetap indah sama kamu."
"Iya sayank, itu juga inginku. Makasih ya udah sayank sama aku."
"Makasih juga buat kamu, yang udah tulus sama aku."
Dewa, meraih jemari aulia, dan menggenggam nya erat dan sangat erat.
Seakan takut genggaman itu lepas.
Aulia pun membalas genggaman itu tak kalah eratnya, dari raut wajah aulia terlihat jelas bahwa aulia bahagia memiliki dewa, begitu juga sebaliknya.
Perjuangan dewa, dalam pertarungan nya mendapat kan aulia ternyata tak sia-sia, kini saat nya dewa menuai hasilnya.
Dengan menjaga aulia setulus hati, menyayanginya, dan mencintainya.
Dewa, pernah berjanji jika dia mampu
Memiliki aulia, maka dia 'kan selalu menjaga aulia, dan selalu menyayanginya tanpa jeda sedikit pun.
Karna baginya aulia adalah hadiah paling indah dan terindah yang pernah dia dapatkan.
Semua Kisah Berawal Dari sebuah mimpi ... Ingin memiliki sebuah cinta it juga sebuah mimpi... Bertanyalah anda pada diri dan hati anda mimpi kah anda saat anda mengginginkhan sebuah cinta tanpa harus merasa luka karna berpisah... Dan bertanyalah anda pada jiwa anda Sudahkah Mimpi anda menjadi nyata saat jiwa anda segera menuju mati
Kamis, 23 Desember 2010
Bahagia ku milikimu
Waktu itu telah berlalu..
Kesalahpahaman itu telah terselesai khan.
Tepukkan sebelah tangan itu sudah tak lagi berbunyi pelan.
Karna kini yang bertepuk bukan hanya sebelah tangan,
Tapi kedua tangan.
Yang artinya cinta itu terbalaskan.
Dewa bahagia karna cintanya diterima oleh aulia.
Dan sebenarnya aulia juga mencintai dewa.
Dan dewa bahagia saat tau tentang itu.
Meski dy tau cinta itu belum seutuhnya menjadi miliknya.
Sakit jadi selingkuhan?
Mungkin ya.
Tapi dewa tak hiraukan itu, karna dia sungguh mencintai aulia.
"Wah.. Yg udah jadian bawa'annya mesra mulu ya?"
Kata andin menggagetkan dewa dari belakang.
"Akh sirik aja lu ndin."
"Ahaha.. Bukan sirik,
tapi seneng aku liatnya,
aku ikut bahagia liat kalian bahagia, yang langgeng ya?"
"Insyaallah." Jawab dewa dan aulia bersama'an.
"Ciiiieee.. Kompak euy..
Beneran dah lu berdua serasi, eheheh."
"Iya dunk." Jawab aulia sembari mencium pipi dewa.
"Eh si ela kapan balik semarang?"
"Lum tau aku, masih sibuk kuliah dianya,
Padahal aku dah kangen banget sama dia."
"Oalah ngenese rek, sabar,
sabar duda sebentar aja kok masa gak tahan, tahani donk."
"Ya aku, juga sabar kok."
Andin, terdiam dan tanpa sadar air matanya jatuh berlinang,
fikirannya melayang jauh kenegri jiran,
di mana saat ini wanita tercintanya,
tengah melanjutkan study nya di negri jiran tersebut.
Kerinduan itu menyiksa nya,
kerinduan yang teramat sangat,
padahal baru 3 bulan Ela,
meninggalkan nya di indonesia
Dan berangkat kemalaysia,
namun rasa rindu itu sudah datang kembali melukai nya.
"Wooooiii.. Jangan cengeng gitu dunk,
jelek lu gitu." Sergah dewa
"Sumpah, aku kangen banget sama ela."
"Ya, iya kita ngerti kok ndin." Kata aulia
"Pengen aku susulin aja rasa nya,
kalau fikiran setan aku datang gak mikir panjang lagi."
"Dia disana kan melanjutkan study nya,
lu kudu dukung ndin, kasih semangat,
jangan lemah karna diserang rindu,
kasih juga dia kekuatan. Gue,
yakin dia juga ngerasa apa yang lu rasa."
" Iya wa, aku 'kan berusaha lebih kuat lagi buat dia.
Jarak ini memang nyakiti wa.
Tapi ya benar kata lu, aku kudu kuat."
"Gitu dunk, itu baru namanya sahabat gue,
saudara ku, adek saya. Ahahahahahahaha."
Dewa berusaha menghibur andin
"Prrrreeeettt.. Eh wa, besok lu jadi traphy?"
"Ssssttt.. Apa'an si ndin? Gue,
dah bilang jangan nanya-nanya itu diluar rumah."
"Iya, iya maaf, kelepasan aku."
Wajah andin, berubah murung.
Dan setelah itu aulia bersuara,
bertanya tentang traphy yang di ucapkan andin tadi.
"Traphy apa nyet? Emang kamu sakit apa? Kok aku gak tau?"
"Engga sakit apa-apa sayank,
bukan aku kok, sepupu aku itu.
Jadi rencana nya besok aku sama andin mau nemenin dia sayank."
"Yakin? Engga bohong gitu?"
"Yakinlah, tanya aja andin dah sayank, iya kan ndin."
Dewa menepuk paha andin,
membuat andin kaget dan jawaban nya sedikit gugup.
"Iya tu, iya."
"Hmmm.. Aku boleh ikut?"
"Ha? Ikut? Sayank mau ikut? Hmmm..
Sebaiknya jangan ya sayank?
Nanti kamu cape, biar aku sama andin aja."
"Jadi gak boleh ikut?"
"Bukan gak boleh sayank,
tapi ya sebaiknya jangan.
Besok selesai nemenin sepupu, aku jemput kamu dikampus, ok."
"Hmm.. Ya udah kalau gitu."
Huft..... Dewa menghela napas panjang,
merasa terselamat kan. Karna aulia mau mengerti.
Bisa gawat jika aulia ikut,
aulia bakal tau tentang penyakit dewa,
Dewa tidak mau aulia tau.
Alasan nya karna dewa, tidak mau aulia bersedih,
jika tau kalau dewa akan meninggalkan nya
karna penyakitnya itu.
Namun dewa, berusaha untuk sembuh,
dengan mengikuti traphy,
berharap penyakit itu bisa hilang secara berlahan.
Dewa sangat menyayangi aulia.
Dan
dia belum Siap mati dan belum siap meninggalkan aulia.
Kesalahpahaman itu telah terselesai khan.
Tepukkan sebelah tangan itu sudah tak lagi berbunyi pelan.
Karna kini yang bertepuk bukan hanya sebelah tangan,
Tapi kedua tangan.
Yang artinya cinta itu terbalaskan.
Dewa bahagia karna cintanya diterima oleh aulia.
Dan sebenarnya aulia juga mencintai dewa.
Dan dewa bahagia saat tau tentang itu.
Meski dy tau cinta itu belum seutuhnya menjadi miliknya.
Sakit jadi selingkuhan?
Mungkin ya.
Tapi dewa tak hiraukan itu, karna dia sungguh mencintai aulia.
"Wah.. Yg udah jadian bawa'annya mesra mulu ya?"
Kata andin menggagetkan dewa dari belakang.
"Akh sirik aja lu ndin."
"Ahaha.. Bukan sirik,
tapi seneng aku liatnya,
aku ikut bahagia liat kalian bahagia, yang langgeng ya?"
"Insyaallah." Jawab dewa dan aulia bersama'an.
"Ciiiieee.. Kompak euy..
Beneran dah lu berdua serasi, eheheh."
"Iya dunk." Jawab aulia sembari mencium pipi dewa.
"Eh si ela kapan balik semarang?"
"Lum tau aku, masih sibuk kuliah dianya,
Padahal aku dah kangen banget sama dia."
"Oalah ngenese rek, sabar,
sabar duda sebentar aja kok masa gak tahan, tahani donk."
"Ya aku, juga sabar kok."
Andin, terdiam dan tanpa sadar air matanya jatuh berlinang,
fikirannya melayang jauh kenegri jiran,
di mana saat ini wanita tercintanya,
tengah melanjutkan study nya di negri jiran tersebut.
Kerinduan itu menyiksa nya,
kerinduan yang teramat sangat,
padahal baru 3 bulan Ela,
meninggalkan nya di indonesia
Dan berangkat kemalaysia,
namun rasa rindu itu sudah datang kembali melukai nya.
"Wooooiii.. Jangan cengeng gitu dunk,
jelek lu gitu." Sergah dewa
"Sumpah, aku kangen banget sama ela."
"Ya, iya kita ngerti kok ndin." Kata aulia
"Pengen aku susulin aja rasa nya,
kalau fikiran setan aku datang gak mikir panjang lagi."
"Dia disana kan melanjutkan study nya,
lu kudu dukung ndin, kasih semangat,
jangan lemah karna diserang rindu,
kasih juga dia kekuatan. Gue,
yakin dia juga ngerasa apa yang lu rasa."
" Iya wa, aku 'kan berusaha lebih kuat lagi buat dia.
Jarak ini memang nyakiti wa.
Tapi ya benar kata lu, aku kudu kuat."
"Gitu dunk, itu baru namanya sahabat gue,
saudara ku, adek saya. Ahahahahahahaha."
Dewa berusaha menghibur andin
"Prrrreeeettt.. Eh wa, besok lu jadi traphy?"
"Ssssttt.. Apa'an si ndin? Gue,
dah bilang jangan nanya-nanya itu diluar rumah."
"Iya, iya maaf, kelepasan aku."
Wajah andin, berubah murung.
Dan setelah itu aulia bersuara,
bertanya tentang traphy yang di ucapkan andin tadi.
"Traphy apa nyet? Emang kamu sakit apa? Kok aku gak tau?"
"Engga sakit apa-apa sayank,
bukan aku kok, sepupu aku itu.
Jadi rencana nya besok aku sama andin mau nemenin dia sayank."
"Yakin? Engga bohong gitu?"
"Yakinlah, tanya aja andin dah sayank, iya kan ndin."
Dewa menepuk paha andin,
membuat andin kaget dan jawaban nya sedikit gugup.
"Iya tu, iya."
"Hmmm.. Aku boleh ikut?"
"Ha? Ikut? Sayank mau ikut? Hmmm..
Sebaiknya jangan ya sayank?
Nanti kamu cape, biar aku sama andin aja."
"Jadi gak boleh ikut?"
"Bukan gak boleh sayank,
tapi ya sebaiknya jangan.
Besok selesai nemenin sepupu, aku jemput kamu dikampus, ok."
"Hmm.. Ya udah kalau gitu."
Huft..... Dewa menghela napas panjang,
merasa terselamat kan. Karna aulia mau mengerti.
Bisa gawat jika aulia ikut,
aulia bakal tau tentang penyakit dewa,
Dewa tidak mau aulia tau.
Alasan nya karna dewa, tidak mau aulia bersedih,
jika tau kalau dewa akan meninggalkan nya
karna penyakitnya itu.
Namun dewa, berusaha untuk sembuh,
dengan mengikuti traphy,
berharap penyakit itu bisa hilang secara berlahan.
Dewa sangat menyayangi aulia.
Dan
dia belum Siap mati dan belum siap meninggalkan aulia.
Rabu, 01 Desember 2010
Penyesalan
Siang itu andin dan ela sedang melakukan kerja bakti. Berhubung hari ini andin libur kuliah maka mereka membersihkan perkarangan rumah.
Ela kebagian tugas menyapu daun-daun kering. Sedang kan andin memotongin rumput-rumput yang mulai tinggi. Mereka melakukan itu semua bersama-sama sambil sesekali saling mengoda.
Namun saat andin bergerak ingin memeluk ela dari belakang, terdengar suara klason mobil, mereka pun secara bersama’an menoleh kebelakang kearah datang-nya suara itu. Dan sebuah senyuman yang manis tersungguh ‘tuk mereka berdua dari seorang gadis yang tidak lain adalah aulia.
“Mesra banget. Bikin gue mupeng aja.” Kata aulia, yang saat itu masih duduk manis dalam mobil-nya.
“Harus dong.. kita kan pasangan paling romantis.” Jawab andin sambil mencium ela, dengan mesra.
“Patang dipuji lu ndin.” Sunggut aulia saat turun dari mobil.
“Kenyata’an kali.. eh iya kenalin ini ela gf gue. Sayang, kenalin ini aulia, yang biasa aku ceritai kekamu itu.”
Ela, menggulurkan tangan-nya, aulia pun menyambut uluran tangan ela, lalu mereka pun berjabatan tangan saling menyebutkan nama-nya masing-masing. Setelah itu
andin, menyarankan ‘tuk masuk kedalam, maka mereka pun melangkah bersama-sama masuk kedalam rumah.
“Duduk dulu ya? Gue mau cuci tangan dulu.” Aulia mengangguk pelan sambil tersenyum.
Semenit kemudian andin dan ela kembali menemui aulia diruang tamu, dengan 3 gelas minuman dingin yang ada ditangan ela.
“Minum dulu ay.” Ela memberikan segelas minuman itu pada aulia, sisa-nya ‘tuk ela dan andin.
“Yups, makasih ya. Baik banget bini lu ndin.” Puji aulia.
“Oooohh jelaaaasssss, gf-nya siapa dulu dong.”
“Dasar Pandipu lu.”
“Ha? Apa tu ay.”
“Pantang dipuji.” Jawab aulia, sambil menjulurkan lidah-nya saat memberi tau arti dari kata-katanya itu.
“Akh.. maksa banget singkatan-nya. Eh ngomong-ngomong oleh-oleh dari jogja mana nih?”
“Oh itu, masih ketinggalan ditoko-nya masing-masing.” Aulia menyengir
“Akh payah lu, kalau udah senang-senang lupa sama kita-kita. Oleh-oleh aja gak ada, akh kecewa gue nih.”
“Lebay lu nyet. Entar gue bawain baju kotor gue ya, cuciin dah tuh, gemana? Ok, kan oleh-olehnya?”
“Sialan lu kate lu babu hah? Mending yang bersih bisa kita jual, ya gak sayang?” lirik andin pada ela
“Dasar otak lu isi-nya jual-jual mulu tau-nya.”
“Ooooohh Jelaaassss.. hal yang menghasilkan uang itu, adalah hal yang sangat menyenangkan kali.”
“Mboooohhhh lah.” Jawab aulia, jutek setelah selesai menengguk minuman-nya.
“Eh iya, lu dapat salam tu dari dewa.”
“Hmm.. mana anak itu?”
“Itu anak lagi dijakarta ay.”
“oh, ngapai dia kejakarta? Dari kapan tu anak disono?”
“Baru tadi pagi dia berangkat, sebelum berangkat mampir dulu kesini tadi pagi, pamitan. Kata-nya mau nenangi diri dulu, dinginin otak dipuncak.”
“Oh, tempat gf-nya ya?
“Ha? Gf? Sotoy lu. Dia gak punya gf kali ay, dia pengen menyendiri dulu kata-nya, makanya dia kepuncak buat dingin otak sekaligus mencari ketenangan hati kata-nya.”
“Oh kirain. Emang itu hati kenapa ndin?”
“Patah hati dia, sama lu.” Andin sengaja celetuk begitu, karna dia mau aulia tau apa yang dirasain dewa, dan perasa’an dewa pada-nya selama ini.
“What? Patah hati sama gue? Jangan ngaco dong. Mang gue apain itu anak, akh Ngocol lu.”
“Kenyata’an nya begitu, lu aja yang gak nyadar.”
“Apa’an sih lu ndin, makin ngaco aja deh.”
“Eh gue serius, Ngapai juga gue, ngaco hah?”
“Ya itu, omongan lu barusan ngaco kali ndin. Maksud lu apa gitu nyalahi gue, gue gak tau apa-apa kali.”
“Ya maksud gue, bukan-nya mau nyalahin lu ay. Tapi gue, mau lu tau aja apa yang dirasain dewa, selama ini. Bagaimana perasa’an dewa, ke lu ay. Cuma itu, bukan maksud gue nyalahin lu bukan. Karna selama ini lu gak tau kan? Dewa, merasa sakit hati, kecewa semua rasa itu nyakiti dia ay, saat dia tau kamu sudah punya kekasih, terlebih lagi kekasih mu itu seorang lelaki.”
Aulia hanya diam seribu bahasa.
Namun andin terus saja berbicara tanpa jeda sedikitpun.
“Dewa, suka sama lu ay, dewa juga sayang sama lu. Dan lu gak pernah tau itukan? Sedikitpun lu tidak pernah tau, ay.” Lanjut andin.
Kali ini aulia, merasa dipojokan oleh andin, aulia pun akhir-nya bersuara.
“Cukup ndin. Gue memang tidak pernah tau, sedikitpun memang gue tidak pernah tau bagaimana perasa’an dewa kegue, bagaimana dewa, menyayagi gue, ya gue ga pernah tau itu ndin, sama sekali tidak, Never mind. Tapi lu gak berhak nyalahi gue, ndin.” Suara aulia meninggi, lalu aulia bangun dari tempat duduk-nya, diraihnya kunci mobil yang ada dimeja lalu keluar meninggalkan andin dan ela tanpa pamit terlebih dahulu.
Andin, memanggil-nya berulang-ulang kali, namun panggilan itu tak diperdulikan oleh aulia. Dia terus saja berjalan menuju tempat dimana dia memarkirkan mobil-nya.
Maka langkah andin pun terhenti saat aulia, telah berhasil masuk kemobil-nya dan melesat cepat dengan kecepatan yang tak wajar, emosi aulia membuatnya mengemudi dengan cara yang salah.
“Biarin aja dulu yank, mungkin emosinya sedang meninggi. Sekaligus kaget dengan apa yang kamu sampaikan tadi.” Kata ela, pada andin, saat wanita-nya itu kembali masuk.
Tapi andin hanya menghela nafas panjang.
“kamu juga salah sayang, seharusnya tadi kamu ngomong-nya baik-baik. Aku tau kamu ingin membantu dewa, agar aulia tau tentang perasa’an dewa kedia. Tapi tidak seperti tadi sayang, itu adalah cara yang salah, kamu melakukan-nya dengan sangat gegabah sayang.” Ela kembali bersuara.
“Iya yank, ku tau cara ku memang salah, sampai aulia, marah begitu. Tapi itu untuk dewa yank, ku gak mau dewa, terus-terusan memendam rasanya, sakit-nya dewa bisa ku rasakan yank, dia sahabat ku, ku hanya mau yang terbaik untuk-nya.”
“Iya sayang, aku ngerti. Ya udah besok kamu temui aulia, dikampus mintalah maaf padanya, jelasin secara pelan-pelan agar dia mengerti dan tidak merasa disalah kan oleh kamu.”
“Ya, besok ku akan coba menemui-nya dan meminta maaf sama dia.”
Tiba-tiba keheningan terjadi didalam rumah ini, sepi seperti tak berpenghuni. Padahal dirumah ini ada andin dan ela, namun terlihat tak ada siapapun karna keheningan itu sengaja dihadirkan oleh andin dan ela, dalam diam tanpa suara.
Perasa'an
Tek tok tek tok tek tok.. mendengar suara itu ku melirik jam dinding yang ada dikamar ku ini. Jam itu menunjukan pukul 4.10 dini hari, itu tanda nya sebentar lagi adzan pertanda waktu masuk-nya shalat subuh akan segera tiba dan berkumandang diudara. Tapi aku masih saja belum bisa tertidur, ku memikirkan kata-kata andin dan ela kemarin siang.
Gadis yang selama ini ku sukai dan ku sayangi secara diam-diam ternyata mantan seoarang lines. Itu lumayan menggagetkan ku, namu yang lebih menggagetkan lagi lain dari itu ternyata dia memiliki seorang kekasih, dan kekasih-nya itu adalah seorang adam.
Ya tuhan hambamu ini menyayangi gadis itu. Namun mengapa sulit ‘tuk ungkap kan rasa ini? Sampai kapan? Sampai kapan perasa’an ini hamba simpa ya tuhan.
Ada rasa nyeri dihati ku, saat ku tau gadis itu t’lah ada yang memiliki. Ku merasa lemah saat ku tak dapat ungkapkan perasa’an ini. Namun ‘tuk menghapus-nya pun ku tak mampu, karna ku benar-benar menyayangi-nya.
Dewa, terlihat seperti orang yang tak waras, menyudut sendiri sambil meremas-remas rambut-nya, berteriak seperti orang kesakitan.
Ternyata benar penyakit-nya berulah, rasa sakit itu ada dibagian kepala-nya seperti ditusuk-tusuk dengan ribuan paku yang ukuran sebesar 1Cm, sakit dan denyut itu yang menyiksa.
Dewa, mencoba bangkit dan meraih obat yang ada didalam laci lemari-nya. Sebutir obat berwarna putih diambil olehnya lalu menelanya bulat-bulat dengan bantuan segelas air putih.
Sebutir obat itu t’lah diminum-nya. Kembali pada sebuah keheningan diatas sebuah ranjang, direbahkan-nya secara berlahan tubuh-nya, kembali pada seraut wajah cantik, wajah aulia, aulia lagi dan lagi. Dewa masih saja memikirkan aulia, sepertinya dewa merindukan gadis itu. Sampai sedemikian-nya dia memikir kan gadis itu. tapi mata itu terlihat mulai dipejamkan sedikit demi sedikit mata itu mulai tertutup.
Maka terlihat lah bulu mata yang lentik itu, terlihat t’lah terpejam dengan sempurna. Maka semakin jelas terlihat lentiknya bulu mata itu, ternyata butchy ini memiliki bulu mata yang lentik, lucu ya? Tapi indah sebenarnya.
Namun beberapa menit kemudian, saat adzan subuh berkumandang dewa pun terlihat t’lah tertidur dengan pulas-nya.
Si Kepala Batu
“Ok, kita sampai.” Kata andin dan lansung turun dari mobil dewa.
“Ndin, tadi mau cerita apa.” Tanya dewa penasaran, saat andin hendak menutup kembali pintu mobil-nya.
“Sabarlah, nanti saja setelah makan. Sekarang kita makan dulu ok.”
Dewa, hanya mengangguk pelan, penasaran setengah metong dia dengan cerita andin, mau cerita apa sih ini andro dodolz.
“Sayang, baju-nya diatas kasur ya.” Teriak ela pada andin. Tapi tidak ada jawaban barang kali andin tidak mendengar-nya.
“El, lu tau gak laki lu mau cerita apa ke gue?”
“Engga, emang cerita apa sih?” ela balik bertanya sambil menyiapkan makan dimeja makan.
“Kalau gue, tau gue, kaga nanya sama lu, dodolz. Hadeh laki sama bini sama aja ya dodol-nya.” Kata dewa sewot
“hahahah iya, tapi siapa tau ada gambaran-nya gitu?”
“Otak gue, lagi heng, kaga bisa gambar-gambaran.”
“Sinis amat gan, nanti ganteng-nya ilang lho, hehehheh.”
“maaf ya bo, eke gak punya uang receh.” Dewa menjawab gaya bak seorang banci didepan ela. Dan itu membuat ela tertawa ngakak, bersama’an dengan itu andin pun datang lalu.
“Idih, yei cucok deh, bo.” Andin ikut-ikutan ngondek
“Hahahahaha, udah, udah siang-siang gini pada sinting, sakit nih perut gue, ngeliat tingkah kalian.” Kata ela yang dari tadi tertawa puas melihat tingkah wanita-nya dan sahabat-nya itu.
“Ehehehehe, iya sayang iya, yuk kita makan. Wa kita pause dulu itu tadi acting-nya.”
“Hahhhahaa, lu kata kita lagi shooting, ya udah yuk.” Dewa mengambil satu tempat dan tempat itu berhadap-hadapan dengan andin. Dewa pun kembali bertanya pada andin.
“Heh, buruan cerita, tadi mau cerita apa lu sama gue.”
“Masyaallah, ini orang kaga sabaran amat ya? Lagi makan ini bos, dilarang berbicara, bukan-nya lu yang ngajarin kita-kita kalau makan tidak boleh bersuara, ingat tuh.”
“Iya ingat kali, tapi kan sekarang ini situasi-nya, mendesak. Penasaran gue.”
“Makan aja dulu.”
“Hmmm…” dewa hanya bergumam kecil. Dalam hati-nya sangat dongkol sekali dibuat penasaran begini oleh andin, tapi ya mau tidak mau harus sabar dari pada andin-nya menolak bercerita, bisa-bisa aku mati penasaran nanti-nya.
Beberapa menit kemudian, meja makan itu telah kembali bersih dan para penyantap makanan pun sudah tidak ada, kemana mereka bertiga? Hmmm… ternyata mereka ada diruang tamu. Kost’an ada ruang tamu-nya? O’oh seperti-nya andin salah kasih nama pada rumah ini, rumah ini rumah kontrakan kali ndin, aduh sih andin, rumah yang lumayan besar begini dibilang kost’an.
Tapi ya whatever lah rumah-rumah andin kok. Dan disebuah sudut yang ada dirumah ini dewa, terlihat sedang termenung dengan sebatang rokok yang terselip dijari-nya. Dewa, menunggu andin, andin yang ditunggu malah asik main PSP dipangkuan ela. Huuuuuh.. seperti-nya andin sengaja membuat dewa, penasaran atau jangan-jangan andin benaran lupa?
“Eh kampret, jadi cerita gak sih?” dewa melempar andin dengan bungkus rokok-nya
“Jadi wa, ya lu nya juga ngapai kayak orang terasing gitu. Ya gue, ceritai sekarang ini tentang aulia, tapi gue minta lu jangan bete nanti-nya setelah gue selesai cerita.”
“Udah buruan cerita aja.”
“Tadi-nya aulia itu sebenar-nya belok wa. Tapi sekarang dia udah straight.”
“Serius lu? Tau dari siapa lu?”
“Dia yang ngaku sendiri, dan hari ini dia kejogja itu karna besok cowok-nya ultah wa.”
“What? Cowok? Aulia punya cowok? Kok gue, gak pernah liat itu cowok.” Dewa kaget setengah mampus, saat dia tau aulia punya cowok.
“Jangankan elu wa, gue aja yang satu kampus juga gak pernah liat. Cowok itu anak jogja wa.”
“Oh jadi dia kejogja nemui cowok-nya? Hmm…”
“tadikan gue, minta lu jangan bete.”
“siapa yang bete sih? Biasa aja kok ndin.”
“dewa, dewa, gue kenal sama lu itu bukan hari ini aja. Jadi gue tau lu wa.”
Dewa hanya diam saja medengar andin berkata seperti itu.
“Wa, lu udah taukan kalau aulia, sudah ada yang punya, so apa kamu tetap mau menunggu dia.”
“Gue, udah bilang, gue sayang sama dia bukan karna tapi walau. Walau apa pun yang terjadi sayang gue ya tetap kedia. Dan apa yang gue dengar hari ini, sama sekali itu gak buat gue bergeming. Gue akan tetap nunggu aulia.” Dewa mempertegas kata-kata-nya pada andin.
“Tapi wa, itu hanya akan membuat lu sakit sendiri nanti-nya.”
“benar wa, apa yang di bilang andin. Iu hanya akan nyakiti lu wa, ya kita tau seorang dewa akan sangat menjaga kasih sayang-nya pada wanita yang dia sukai dan sayangi. Tapi wa, aulia sama sekali tidak tau dengan hal itu, dia tidak tau kalau lu sayang sama dia. Kita gak mau wa, lu ngerasa sakit.” Ela dan andin sama-sama menasehati dewa, tentang perasaan-nya pada aulia.
Dan lagi-lagi dewa hanya diam tanpa kata sedikit pun.
Tergoda gak tergoda sih
Menjelang sore sebuah mobil jazz berwarna merah berhenti disebuah gerbang kampus. Dua orang wanita keluar dari mobil itu, seorang wanita yang dengan gaya yang serba lelakian dan terlihat sangat maskulin. Dan satu-nya sangat feminim sekali dengan rambut-nya yang panjang dan tergerai dengan indah.
Kedua wanita cantik itu adalah dewa dan ela. Dewa, yang sebelum-nya sering datang kekampus ini,sendiri, namun hari ini dia tidak sendiri, dia ditemani oleh Ela. Hari ini terlihat sedikit berbeda, dewa yang biasa-nya datang sendiri tapi kali ini dewa, tidak sendiri, beda bukan?. Namun yang tidak berbeda hanya satu dan tidak akan pernah menjadi beda, karna hal itu akan tetap menjadi hal yang sama. Hal yang menjadi alasan bagi dewa, ‘tuk tetap datang kekampus ini, kedatangan dewa, tetap dengan alasan yang sama, menjemput andin, hanya itu yang tidak berbeda hari ini.
“jadi lu benaran suka sama yang nama-nya aulia itu wa?”
“ya begitu lah el.”
“ya gue, lihat dia memang cantik, kata andin dia juga baik, ramah lagi.”
“ya el, aulia memang cantik, tapi bukan cantik-nya saja yang gue lihat.”
“hmm… kalau lu sampai jadi sama dia, lu beruntung banget dah wa, dapat cewek secantik itu.”
“siapapun yang mendapatkan aulia, pasti-nya orang itu merasa jadi sangat beruntung el.”
“tapi apa lu yakin?”
“Dengan apa el?”
“ya dengan perasa’an lu itu.”
“ya yakin lah el, gue suka sama aulia, dan gue juga sayang sama dia el.”
“kalau begitu dekati dia lebih jauh lagi dunk. Gue dan andin, dukung lu kok. Tapi jika aulia nyakiti lu, kami tidak akan tinggal diam.”
“hehe… makasih ya el, gue yakin dia gak akan nyakiti gue.”
“ya sama-sama bos.”
Dari kejauhan terlihat ada sebuah mobil yaris berwarna putih berhenti tidak jauh dari mereka, dan orang yang ada didalam mobil itu sedang memerhatikan mereka berdua.
Dewa……… senyuman yang diikut sebuah suara yang menyebutkan nama dewa, itu ternyata adalah aulia, si gadis cantik yang disukai oleh dewa. Tapi sayang-nya aulia tidak tau tentang hal itu.
Hal itu masih saja menjadi rahasia, karna dewa belum siap mengungkap kan perasaan-nya itu pada gadis ini, entah sampai kapan dewa akan menyimpan rahasia itu.
Aulia, masih ditempat yang sama masih memandagi dewa dari kejauhan, ada apa dengan aulia? Mengapa dia diam-diam seperti ini seperti mata-mata saja. Tiba-tiba saja aulia menghelas napas panjang dan berkata. Ya tuhan… mengapa ku merasa tergoda oleh dewa? Tolong aku, Bantu aku ya tuhan, kuatkan hati ku agar ku tidak tergoda oleh wanita itu. Begitu ucap aulia pada sang penguasa, semoga sang penguasa mendengar kan kata-kata ku, gumam aulia pelan.
10 menit kemudian andin, terlihat sedang berjalan mendekati mereka berdua dengan senyuman yang manis, seperti-nya jam kuliah-nya telah berakhir.
“Hai sayang…” sapa andin, pada ela, dan memberi satu tepukan ringgan dibahu dewa.
“Hmm… tumben cepat, biasa-nya lama kata dewa.”
“Karna aku tau kamu ikut menjemput ku maka-nya ku cepatkan agar kamu tidak menunggu lama, kalau dewa yang nunggu ya masa bodoh aja, toh itu kan Cuma alesan dia aja.” Andin menceloteh dengan cepat-nya sambil melirik kedewa.
“Huuuu ngombal ngembel lu, biar kata itu Cuma alesan tapi lu-nya nyampai juga kan dirumah karna gue?” balas dewa tak mau kalah.
“oalah… malah ribut, ini target-nya mana?” Tanya ela pada dewa dan andin.
“Target? Target apa sayang?” andin balik bertanya.
“eh iya, aulia mana ndin? Itu maksud bini mu dodol.”
“Aulia? Dia udah keluar dari tadi kali sebelum kalian datang dia udah keluar duluan. Katanya mau kejogja hari ini. Jadi dia buru-buru pulang lagian jam kedua dia tadi kosong wa. Kenapa gak lu sms aja tadi.” Saran andin.
“Engga akh, kalau memang dia lagi dalam perjalanan kejogja, gak akh, entar gara-gara sms gue, konsentrasi-nya keganggu lagi. Emang ngapai lia, ke jogja? Jemput adek-nya? Kan belum waktu-nya anak sekolah libur.”
“Nanti aja deh aku ceritai. Sekarang kita kemana nih? Mau pulang atau makan dulu?”
“Kita pulang aja ya, aku udah masak tadi. Sebelum dewa menjemput aku.”
“Ya udah, kalau begitu kita pulaaaaaaaaaaaaaaaaanggg..” teriak andin ditelinga dewa. Tapi dewa hanya memberi isyarat tanda setuju dan dewa pun mengikuti langkah sepasang kekasih itu yang posisi-nya ada didepan dewa. Dewa bermain tebak-tebakan dengan hati-nya, menebak apa yang akan diceritakan andin nanti sesampai-nya mereka dirumah.
The Story Bad
Pagi ini dewa, bangun lebih awal dari biasanya. Dewa terbangun bukan karna dia ada janji pagi ini tapi karna keributan yang terjadi diluar kamar-nya.
Huft……… pagi-pagi sudah ada yang perang. Kapan sih tenang-nya. Ucap dewa dalam hati-nya.
Dibuka-nya gorden penutup jendela itu dan hendel jendela pun dibukakan-nya sekaligus. Maka udara sejuk pagi itu pun masuk kedalam kamar dan sejuk-nya menyapa wajah dewa.
Diraih-nya bungkus rokok yang ada di atas TV dan diambil-nya sebatang lalu dewa pun mulai mengisap-nya secara berlahan, dan menikmati setiap nikotin yang terisap oleh-nya. Sarapan pagi dewa, s’lalu saja diawalin dengan sebatang rokok dan segelas air putih.
Hening… didalam kamar namun ricuh diluar kamar. Tapi dewa, tak mau ambil pusing, dia coba bersikap acuh dan diam disebuah sudut yang ada dikamar-nya, dan hanya mendengarkan kericuhan itu.
Tak bisakah rumah ini aman satu hari saja? Kapan ku dan adik-adik ku merasa kan nyaman dirumah ini? Kenapa mereka selalu saja menjadikan masalah-masalah itu sebagai ajang pertengkaran? Menurut ku bukan kah mereka sudah cukup dewasa.tapi mengapa selalu saja permasalahan itu berujung dengan pertengkaran.
Kalau saja nenek ada disini pasti suasana rumah ini terasa dingin, tidak seperti neraka begini selalu panas. Ya tuhan sampai kapan keluarga ini begini.
Kembali pada beberapa tahun yang lalu, yang dimana saat itu umur ku baru 10 tahun. Ku yang saat itu memang belum mengerti banyak hal. Tapi ku tau pagi itu sama seperti pagi ini dan pagi-pagi yang lain-nya yang pernah ku lewati.
Pagi itu ku sudah rapi dengan seragam merah putih ku. ya saat itu ku masih kecil, ku masih duduk disekolah dasar.
Sepatu sudah ku kenakan dikaki-ku. tas sudah ku sandang dipunggung ku. namun pagi itu hati ku merasa kan ketakutan karna pertengkaran mereka.
Rasanya kuingin dirumah saja menemani mamah, kalau-kalau mamah menangis dan butuh teman.tapi alasan apa yang akan berikan pada mereka agar ku tak masuk sekolah hari ini.
“Sudah siap nak?” Tanya ayah ku sambil membelai rambut panjangku. Waktu umur ku 5 tahun rambutku pendek tapi saat umur ku 10 tahun rambut ku kembali panjang, sepinggang. Tidak seperti saat ini rambut ku sangat pendek, seperti laki-laki ya nama-nya juga butchy.
“Udah yah.” Jawab ku pelan.
“Kalau begitu berangkatlah nanti terlambat.”
“Iya, yah.”
“Kamu kenapa kak? Pucat begitu wajah-nya, tidak enak badan? Kalau sakit sebaik-nya kamu ijin dulu hari ini.”
Aku tidak tau harus menjawab apa. Menjawab ya atu tidak. Jika ku menjawab ya, mungkin ini kesempatan ku untuk menemani mamah. Tapi seperti-nya pertengkaran itu sudah berakhir, mungkin aku akan menjawab tidak dan ku akan tetap berangkat sekolah hari ini.
“Engga yah, kakak sehat kok.”
“Ya sudah, berangkat lah.”
“Iya yah.” Ku salim tangan lelaki itu dan wanita itu dan kakipun melangkah pergi meninggalkan rumah. Namun baru saja langkah ku mendekati langkah yang ke10 ku kembali mendengar pertengkaran itu.
Jantung ku berdetak sangat kencang mendengar itu, bentakan itu, ku merasakan lemas dibagian dengkul ku, saat mendengar-nya. takut kembali menyelimuti ku. ku hentikan langkahku dan memutar arah mendekati sebuah pohon yang lumayan besar dan bersembunyi dibalik pohon itu sambil mengintip kerumah.
Ku tidak tahan mendengar pertengkaran itu walaupun tak begitu jelas yang ku dengar namun tetap saja ku tak suka itu dan takut akan itu. Ku keluar dari persembunyian ku dan berlari, kembali kearah rumah sampai didepan rumah ayah bertanya padaku.
“Kenapa kak, kok balik lagi sayang?” Tanya ayah.
“engga enak badan yah.”
“Apa ayah bilang, wajah mu pucat begitu.”
“Ya udah ganti baju-nya. Tidur saja tapi makan dulu dan minum obat-nya yang ada dilemari baju ya kak.” Kata mamah padaku.
“Iya mah.” Selesai melepaskan sepatu ayah menarik tangan ku agar mendekat dengan-nya dan ayah berkata.
“Ayah, berangkat kerja dulu ya? Kamu tidur ya, jangan main-main saja. Temani mamah ya.” Lalu ayah mencium kening ku. aku hanya mengganguk pelan ayah pun pergi setelah berpamitan padaku tapi tidak pada mamah.
Huft……………… dewa, kembali menghela nafas yang panjang, menggingat kejadian yang lalu dan kejadian-kejadian yang lain-nya. Rasa-nya ku hidup dalam sebuah kisah yang tak berujung. Karna disetiap inci kehidupan yang ku lewati semua itu terlihat sama.
Langganan:
Postingan (Atom)



