Minggu, 15 Mei 2011

Kembali Na Cinta Nadila


Masalalu benar-benar datang kembali mengusik ku.
Menghantui ku lagi..
Tangisan it terjadi lagi..
Sakit it benar-benar berdarah lagi..

Sakit menggingat mengapa difa sama sekali tak perduli
Dengan kesakitan ku dulu.
Mengapa menggabaikhan ku saat ku dalam kesakitan..
Mengapa..?

Dan kini difa hadir lagi..
Menyapa ku lagi..
Menggingatkhan ku lagi..
Bahwa difa sebenar na yang ku butuhkhan..
Bukan orang lain..

"Nad..
Kamu ingat difa ea..?". Tanya Esha, sambil memberikhan secangkir kopi dan sepiring gorengan.

"Ea sha, tadi difa sms aku, dy ngajak aku ketemuan lagi."

"Terus? Kamu terima? Kamu mw ketemu difa?"

"Aku g' tw sha, ini udah yang ketiga kali na dy memohon padaku, agar ku mw menemui dy."

"Tanya hati kamu, niat g' nemui dy.?"

"Aku bingung. Aku merindukhan na, ingin menemui na, namun ku takut pertemuan it menyakitkhan lagi."

"Kamu harus tegas nad, temui dan lawan sakit it."

"Inginku begitu tapi ku takut, ku tak sanggup. Menurut mu bagaimana?"

"Manusia it berhak mendapat khan kesempatan kedua. Kurasa tak ada salah na, namun jika it membwt sakit aku tidak 'kan mengijinkhan mu."

"Ea sha, difa memang berharap mendapat kesempatan kedua."

"Jadi kamu setuju 'tuk menemui na? Tapi jika ragu sebaik na jangan nad."

"Aku belum tw. Nanti ku fikirkhan lagi sha."

Senja sore it begitu indah.
Awan berwarna jingga hiasi dunia..
Nadila dan esha
Memandangi awan-awan it menikmati indah na sore ini, d temani secangkir kopi dan sepiring pisang goreng.
Angin sore it seperti alunan musik yang lembut dan sejuk

* * *

Hari ini adalah hari yang d tentukhan oleh difa.
Jam 4 sore ini difa 'kan menunggu nadila d taman kota
Dan nadila belum memberikhan jawaban IYA Atau TIDAK 'tuk Difa.
Jika nadila, hanya diam dan diam kasihan juga difa, harus menunggu na
Berjam-jam..
Nadila, tidak mw membwt difa menunggu.

Setelah Satu Jam Nadila, berfikir akhir na nadila, menjawab IYA.
IYA dy 'kan menemui difa.
Sebuah Pesan Singkat pun dikirim nadila 'tuk Difa.
Dan nadila pun segera bersiap-siap 'tuk Menemui difa, sore Ini.

* * *
Selanjut na..

"Hai.." Sapa nadila, ternyata difa sudah menunggu duluan d taman ini

"Hai, makasih ea udah mw datang."

"Ea sama-sama fa."

"Gemana keada'an kamu, sekarang."

"Hmmm seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja tanpa kamu."

"Syukurlah jika memang begitu, aku senang mendengar na."

"Terus maksud kamu ngajak aku ketemuan 'tuk apa.?"

"Maksud ku meminta mu datang kesini karna ada yang mw aku omongi."

"Oh ea? Apa it.? Katakhan saja sekarang."

"Sebelum na aku mw minta mav atas sikap yang t'lah menyakitimu, dan meninggalkhan mu saat kamu membutuhkhan ku."

"Hal it sudah ku lupakhan, dan aku juga t'lah memav khan mu,sebelum perminta'an it kau sampai khan."

"Terimakasih, namun aku tw kau berdusta, aku tw kau masih sakit dengan kelakuan ku. Dan Membenciku pasti na."

"Sama-sama, tapi aku tidak berdusta. Dan aku tak merasa sakit lagi, tidak juga membencimu."

"Apapun it hanya hatimu yang tw nad."

Nadila hanya diam, mendengar kalimat yang d ucapkhan difa.
Dan hanya menunduk, benar-benar diam tanpa kata.

"Nad, boleh ku lihat luka mu it."

"Sebaik na tidak usah."

"Tapi ku ingin melihat na." Paksa difa.

"Ea, lihat lah."

Difa pun mendekati nadila.
Lalu difa, berjongkok d hadapan nadila, memandangi bekas luka yang ada d kaki nadila.

"Nad, boleh ku melakukhan sesuatu."

"Lakukhan lah jika sesuatu yang ingin kau lakukhan it tak merugikhan ku."

"Tentu saja tidak sayank."

Sayank? Dalam hati nadila menggulang kata-kata it.
Sudah lama nadila tak mendengar kata-kata sayang it, baik dari bibir difa mw pun dari orang lain.
Jujur nadila merindukhan kata-kata manja it hadir 'tuk na.

"Ea lakukhan lah jika memang tak merugikhan ku."

Difa yang mendapat ijin dari nad, lalu menyentuh luka it.
Wajah difa, terlihat miris dan sedih melihat luja it.

Difa, mendekat khan wajah na keluka it, lalu bibir na menyentuh luka it, mencium luka it.

"Mavkhan aku, mavkhan atas terabai na kesakitan mu ini, ku mohon berikhan aku kesempatan 'tuk menggobati lukamu, juga luka hatimu, ku mohon kembali padaku, ku sadari smua, smua ini bahwa memank cuma kamu yang terbaik 'tuk ku, ku mohon berikhan aku kesempatan it nad." Ucap difa, dan menggenggam jemari nadila.

Tanpa disadari oleh nadila, tetesan mungil yang bening menggalir dari sela-sela mata indah na.
Genggaman tangan difa dijemari nadila terasa begitu erat, sorot mata difa, memancarkhan kesungguhan, ketulusan, keseriusan 'tuk memperbaiki segala kesalahan yang ada.

"Jawab aku nad, jangan diam. Jujur padaku,katakhan padaku, bahwa kamu sebenar na masih menyayangiku, dan mengginginkhan hal sama dengan ku. Keinginan 'tuk memperbaiki hubungan kita yang pernah kandas karna kebodohan ku yang memilih wanita yang salah dan meninggalkhan mu."

Namun nad, masih saja diam, walaupun benar yang dikatakhan difa, klw nad, memang menyayangi difa, masih sangat mencintai difa, namun nad, ragu. Maka yang hadir hanya sebuah kebisuan dari nad.


"Nad, ku mohon jawab aku, katakhan nad, klw kamu masih sayang aku, jangan bohongi hati kamu. Ku ingin kita bersama lagi, ku 'kan bukti khan bahwa ku sungguh-sungguh, tidak hanya sekedar kata. Jawab aku nad."

Air mata nad, semakin deras menggalir dan selalu berhenti ditepi bibir na.
Difa yang menyaksikhan hal it, difa yang melihat tetesan bening it menghiasi wajah na, berusaha menghentikhan na, dengan menyentuh tepi mata na, menghapus sisa air mata dengan jari-jari na.

"Nad, mengap air mata it menghiasi wajah mu?, apakhan kata-kata ku menyakitimu? Atw kamu merasakhan sakit it kembali menggerogoti hatimu? Nad, berikhan ku kepercayamu lagi, 'kan ku bukti khan segala na, bahwa aku buka lagi butchy yang bejad 'tuk mu. Tak 'kan lagi meninggalkhan mu. Ku mohon nad."

Nadila, menggangkat wajah na yang sedari tadi menunduk, dan mata na beradu dengan mata difa, dan tatapan it terlihat sayu.
Bibir nad, bergetar seperti terserang hawa dingin, namun sebenar na tidak, it terjadi karna nad, menahan apa yang ingin ia sampaikhan, namun terasa sesak jika ditahan berlama-lama dilaci hati na.

"Fa, aku memang masih menyayangimu dan sangat mencintaimu. Dan semua it juga menyiksaku apabila ku kangen sama kamu. Ku mencoba melawan sakit it sendiri tanpa ada na kamu, tanpa cinta kamu. Ku juga menyadari tak bisa ku menyalahkhan mu begini, karna ku juga mengakui salahku. Salah ku yang terlalu sering menyakitimu, melukaimu, mungkin it tak terhitung, mungkin karna it juga kamu meninggalkhan ku, karna jenuh dengan sikap ku, muak dengan sakit yang selalu ku beri padamu." Kata-kata nad, terhenti sejenak karna tangis na mulai terisak.

"Hanya satu yang kusesalkhan mengapa saat ku benar-benar membutuhkhan mu kamu, malah pergi dariku, it yang membwt sakit ku teramat sakit. namun sekali lagi ku sadari it smua juga karna egoisan ku, kesalahan ku yang berkali-kali menyakiti mu, yang bwt kamu berlalu dariku dan berlabuh dihati yang lain."

"Nad, apapun it salah mu, ku tak menyimpan dendam nad, sama sekali tidak. Hal it terjadi karna memank kebodohan ku yang terlalu bodoh, namun kali ini ku mw perbaiki smua na. Salah mu salah ku, ku mw kita perbaiki bersama, dan menjaga jangan ada lagi kesalahan it diantara kita. Ku sungguh-sungguh nad, sangat sungguh-sungguh nad." Sekali lagi genggaman it terasa begitu erat dan hangat d jemari nad.kali ini genggaman it dibalas oleh nad, apakah it sebuah tanda klw nad, menerima difa lagi..?

"Nad, aku sayang kamu, sangat nad." Difa, bangun dari jongkok na, lalu dengan tubuh yang sedikit membungkuk difa menyentuh wajah na dengan kedua tangan na lalu mengecup lembut kening nad. Difa, tidak perduli dengan keramean taman sore it, dengan tatapan orang-orang pada na dan nad. Karna bagi difa, ini dunia difa, dan mereka ada didunia mereka, maka hak masing-masing dan berkuasalha d dunia masing-masing tanpa mengusik dunia lain.

"Kembali padaku nad, aku membutuhkhanmu, membutuhkhan kasih sayang dan perhatian mu. Hatiku merindukhan chanda tawa mu, hari-hariku merindukhan warna warni senyuman manismu, kembalilah padaku nad, ku mohon." Difa mengulirkhan tangan na, menunggu sambutan dari tangan nadila.

"Fa, ku takut."

"Nad, percaya padaku, 'kan ku buktikhan bahwa sungguh, tidakhan lagi menyia-yiakhan kamu, dan 'kan ku jaga hubungan kita."

"Tapi tetap saja ku takut, takut kehilangan mu lagi fa."

"Nad, aku janji bahwa kamu tidak 'kan prnah kehlangan aku lagi."

Mata mereka kembali beradu, nad mencari sesutu dari tatapan mata it, mata difa.
Mencari kejujuran benar kejujuran bukan hanya sekedar kata manis yang diucap difa.

Dan sebuah cahaya ketulusan ditemukhan nadila, dan kejujuran.
Namun tetap saja nadila masih merasa takut, takut kehilangan difa, karna nadila tak 'kan siap menerima kesakitan it lagi.

"Fa, boleh ku minta sesuatu."

"Apa sayank?"

"Peluk aku, peluk aku yang erat."

Difa, tersenyum mendengar perminta'an nadila. Difa pun memeluk erat tubuh nadila, sangat erat.

"Fa, aku sayang kamu, aku takut kehilangan kamu, janji padaku, bahwa kamu tidak 'kan meninggalkhan ku lagi fa."

"Aku janji sayang, aku tidak akan meninggalkhan mu lagi nad. Karna aku juga merasa sakit karna perbwtan ku sendiri. Kali ini ku 'kan buktikhan bahwa ku benar-benar sangay menyayangimu. Dan ku 'kan memulai na lagi dari awal."

"Jangan lagi fa, jangan lagi tinggalin aku, karna aku g' mw it terjadi lagi fa, aku g' kuat nahan sakit it sendiri fa."

"Nad, saat ini ku ada didekat mu, kamu g' 'kan lagi sendiri, aku 'kan menemani kamu mulai saat ini, s'lalu. Karna ku juga tak ingin kehilangan kamu lagi nad."

Nad, meremas kuat genggaman tangan difa, seolah-olah nad, takut terjatuh lagi dalam sebuah jurang yang menyakit khan, dengan remasan it nad, merasa berpegang pada sebuah pilar yang kokoh dan menyakind khan diri bahwa ia tak 'kan lagi terjatuh.

Dalam pelukhan difa, nadila masih menangis, menangis karna bahagia karna mampu merasakhan hangat dekapan wanita yang ia cintai.
Dalam pelukhan difa, sebuah harapan tersimpan begitu indah dalam laci hati nadila.
Harapan yang indah.
Berharap hubungan ini 'kan menjadi indah..
Indah tanpa noda lagi..
Dan berharap s'lama na begini..

*ketika hatiku kembali padamu..
Ketika tubuh mampu mendekapmu..
Ku meminta padamu jangan lagi kau
Tinggalkhan ku..
Jika it terjadi kembali pada kisah ini
Lebih baik ku tak lagi menyatu dengan bumi..*

Tragedi Singkat Nadila


Sebuah hubungan it 'kan hancur jika kita tak pandai-pandai menjaga na..
Ibarat sebuah cermin ia 'kan terlihat kusam jika tak pandai
Merawat na..

Seperti kisah cintaku dengan mantan wanitaku
sebut saja dy difa.
Setahun ku menjalani kisah cinta terlarang it dengan na
Seminggu setelah peraya'an happy annyversarry kami
Kisah it tertutup rapat..

Ku tak tw apa awal dari kehancuran ini
Dy berubah sedikit dingin padaku, acuh dan cuek..
Disaat ku terbaring sakit pun dy tak perduli..

Hari it ku mendapat sebuah musibah..
Kecelaka'an kecil menghantam ku..
Ku terbaring sakit
Disebuah rumah sakit yang ada dikota Udang siang it..
Bagian tangan dan kakiku sedikit memar..
Dan bagian kepalaku mendapat 6 jahitan..

Dalam keada'an sakit seperti ini
Ku ingin wanitaku ada d sampingku, namun dy tak ada
Jangan khan melihatku, bertanya tentang keada'an ku saja dy tak berniat
Seperti na..
Dan saat teman-teman ku datang kerumah Sakit, mereka yang tak tega melihatku berbaring kesakitan..
Mereka mencoba menghubungi Difa, karna mereka tau yang ku butuh khan saat ini adalah sebuah perhatian dari seorang Difa..
Namun Difa tetep cuek dan tak perduli padaku...

Lalu sebulan setelah kecelaka'an it
Ku mendapat kabar wanitaku it telah menjadi milik wanita lain
Sakit sekali rasa na..
Ku yang begitu mencintai na, dan menyayangina
Dengan mudah
Dy hancurkhan dengan sekejap saja perasa'an ku it..

Selama sebulan ku merasa sakit
D sekujur tubuhku
Tanpa perhatian dari na sama sekali tidak ada
Kupikir dy sibuk dengan kuliah na
Namun ternyata salah..
Dy sibuk dengan wanita lain na..

Ku salah apa?
Ku merawang mencari kesalahan ku
Namun tak ku dapati
Bukan ku tak mw d salahkhan namun benar ku merasa tak punya salah..
Karna mungkin yang ada hanya lah sebuah salah faham..
Dan Yang ku ingat waktu it
Ku memang bertengkar dengan na lewat via telpon
Dy yang marah padaku
Karna ada seorang butchy yang mengodaku
Sebut saja Rakha
Namun ku tak tergoda oleh butchy tersebut..

Lalu dy jg marah padaku saat dy tw
Ku saling berbalas Wall lewat via Facebook
Dengan orang terdekat Rakha..
Orang it adalah kakak na Rakha
Hanya it..
Dy murka padaku
Dan ku tersadar,
Ku mengerti klw sebenar na dy memang sengaja mencari-cari celah kesalahanku..

Ku kecewa
Jika memang tak lagi ada rasa
Mengapa tak jujur saja,,?
Mengapa harus melukaiku..?

Singkat cerita
Sore it ku bertemu dengan na
Pertemuan it seperti pertemuan yg pertama kali
Ku bertemu dengannya, dalam kondisi Yang masih belum sembuh total..
Luka kecelakaan ku saja masih belum mengering dengan sempurna ..
Tak ada kata d awal, tak ada suara pembuka.
Hening..
Sampai akhir na keheningan it terpecah khan oleh suara na..

"Mav khan aku.". Kata na tertunduk..

"Kenapa menyakitiku..? Mengapa tak jujur saja..? Jika memang,
Kamu sudah bosan padaku..?"

"Mav khan aku, ku tw aku salah, tapi ku manusia biasa yang tak dapat luput dari goda'an."

"Kamu jahat, kamu udah nyakiti aku.. Cm mav yg dapat kamu katakhan, it g' cukup,
It g' bisa nyembuhi sakit aku.."

"Ea ku tw, aku jahat, aku butchy bejad, dan hanya kata it yang punya."

"Lalu 'tuk apa pertemuan ini, 'tuk apa?"

"Pertemuan ini pertemuan terakhir. Mav khan aku sekali lagi.
Ku mohon jika memang kamu mencintai aku, biarkhan aku bahagia dengan wanita it,
bukannya kamu 'kan bahagia jika melihat ku bahagia.. Pliss ikhlasin aku dengannya''

Aku terkejut dengan kata-kata na, mendengar na seperti mendengar ledakhan bom
Yang tepat meledak d gendang telinga ku, sakit, perih dan nyeri.
Ea tuhan terbwt dari apa hati wanita ini, wanita yg kucintai ini?
Mengapa mudah bibir na berkata seperti it..?
Tanpa memikirkhan perasa'an ku
Tanpa perduli 'kan kondisi ku..
Orang yang selama ini ku kenal dengan baik, dia yang ku kenal selama
Setahun ini bisa berkata sedemikian menggores hati aku..
Kuat khan aku ea Tuhan...

"Kamu dalam keada'an sadar khan? Tidak sedang mabuk."

"Mengapa berkata begitu? Aku sadar, aku tidak mabuk."

"Jika memang kamu sadar, sadarkah kata-kata mu it menambah sakitku."

"Ea aku tw, ini menyakit khanmu, tapi bukan kah lebih baik?
It bs membwtmu benci padaku, dengan begitu kamu juga dapat melupakhan ku."

"Tidak semudah it, hatiku bukan hati yang terbwt dari batu, tidak seperti hatimu."

"Sudahlah, lupakhan aku, aku hanya butchy yang bejat dan tak ada hati, ku tak pantas 'tuk mu."

Kata-kata na semakin menyakit khan, ku benar-benar kecewa, benci pun singgah dalam hatiku
Benci it 'tuk na, aku membenci na tapi ku juga menyayangi na..
ku bayangkhan sulit na hari yang 'kan ku lewat selama 2bulan ini tanpa hadir na..

Air mata ini s'lalu saja menetes setiap kali ku menggingat diri na.
Rindu 'kan chanda tawa na
Sangat menyiksa ku.

"Nadila..
Sampai kapan kamu mw begini? Terus-terusan terpuruk dalam kesakitan masa lalumu..?"
it kata teman ku, yang saat ini ada denganku, d dalam kamar ku.

"Aku tak tw, mw sampai kapan..
Bayangan it, kenangan it selalu datang menyapaku.."

"Nad..
Sadar dunk, difa bukan butchy yang baik 'tuk mu, jika memang dy tulus tak 'kan ada kesakita ini. Toh d sana pasti na dy sedang bersenang-senang lalu mengapa kamu mw menjadi bodoh? Terus-terusan begini?"

"Aku belum siap 'tuk bangkit..
Perlu waktu 'tuk menyebuhkhan luka ini. Dan it tak mudah."

"Aku tw, it tak mudah, namun ku yakin kamu bisa jika kamu berniat 'tuk kembali bangkit."

Esha benar, aku bisa bangkit lagi jika ku mempunyai niat 'tuk it.
Bukan na menghabiskhan waktu berhari-hari hanya dengan duduk diam d kamar.

"Aku mw kita ngumpul lagi seperti biasa, bersama anak-anak yang lain dan kamu kembali riang, tidak seperti ini."

"Ea sha, makasih udah kasih aku semangat it."

"It udah kewajiban aku, kamu it sahabat aku, sudah sepantas na ku. Melakukhan it."

Aku tersenyum melihat sahabatku it, dy begitu perhatian padaku, hanya dy yang setia menemani ku, dan saat ku menagis dy siap memberikhan bahu na padaku. Dan baju na 'tuk ku jadikhan lap jika hidungku hendak memuntahkhan cairan kental
Ehehehehehhhh..

Waktu berjalan, berputar begitu cepat, kusadari ku mulai terbiasa jalani smua na tanpa Difa, sudah tak begitu terfikirkhan olehku..
Karna benar kata Esha, d sana dy tertawa mengapa aku harus bersedih..?
Dan difa mungkin memang bukan yang terbaik.

Dan malam ini
Aku dan Esha serta teman-teman yang lain, teman-teman sesama tak normal
Alias Lines 'kan berkumpul d sebuah cafe..
Kopdar maksud na..

Jam 7 aku harus sudah stay by krn Esha 'kan menjemput ku lewat setengah jam,
Karna acara it 'kan d mulai jam 9 dan perjalanan kami menuju tempat it lumayan memakan waktu belasan menit. Tadi na ku menolak ikut, karna tempat yang d janjikhan adalah tempat pertemuan ku dengan Difa dulu, pertemuan terakhir.
Mungkin it benar pertemuan terakhir karna setelah hari it ku tak pernah lagi melihat Difa.
Karna it ku menolak ikut, namun esha bilang harus berani dan jangan mw terpuruk lagi, makana ku putuskhan ku setuju 'tuk ikut, dan siap d jemput oleh Esha, malam ini.

Tepat jam 9 ku dan Esha sampai d tempat it.
Berkeliling sebentar mencari lapak yang kosong, 'tuk mobil na.
Dan lapak it d temukhan semenit kemudian, lalu aku dan Esha, bersama'an keluar dari mobil na
Dan melangkah pun bersama menuju kedalam cafe.

Kami terlihat seperti pasangan.
Karna Esha malam ini menggandeng tangan ku.
Esha adalah seorang lines berlabel Andro Butchy..
Dan aku yang berlabel Fem, pasti na yang belum menggenal kami 'kan menggira Esha adalah kekasihku.
Tapi kenyata'an na tidak begitu, Esha hanya sahabatku.
                                                                   * * *

Malam ini d tempat ini
Ku bertemu dengan puluhan orang, namun yang Lines hanya ada belasan seperti na
It pun hanya beberapa yang ku kenal yang lain na tidak..

Tak kenal berati harus kenalan.
Tapi esha kenal dengan mereka semua, dan esha menggenalkhan ku
Dengan teman na yang malam ini 'kan menjadi teman ku, teman baru.

Kami semua berchanda tertawa, terlihat dari raut wajah mereka kalau malam ini semua na bahagia.
Tak ada yang bersedih termasuk aku sendiri.

Namun kebahagia it seperti na tak begitu senang
berpihak padaku
Mengapa,,?
Karna baru saja ku merasa bahagia dengan hadir na orang-orang baru dalam hidupku
Kesakitan yang d masalalu datang kembali mengusik ku, dan luka it pun berdarah kembali.

"Difa.."
Empat huruf it keluar dari bibir ku.
Mendengar nama it, esha mengikuti arah pandangan ku.
Difa, difa ada d sini, mengapa dy ada d sini, tanya ku dalam hati.
Jantung ku berdetak begitu cepat, ku benar-benar tidak menyangka kalau malam ini 'kan bertemu lagi dengan na setelah 4 bulan lebih ku tak mendapat kabar tentang na,
dan pertemuan yang bukan lah pertemuan yang terakhir.

karna kali ini pertemuan it terulangi kembali.
pertemuan yang kembali menyayat luka ku dan darah na mengalir deras
Merembet keseluruh ruang d hatiku.
Ku ingin keluar dari cafe ini, namun esha yang menyadari 'kan keinginan ku it, dy memegang erat jemari ku, dan esha juga mengirim pesan via messange keHand Phoneku yanh isi na.
"Jangan Lari, Hadapi Masalalu it Dengan Senyum Barumu Dan Warna Harimu yang Baru tunjukhan Hitam tak Lagi Hiasi Harimu."
Selesai membaca Messange it, ku kembali duduk dengan tawa dan chanda
Walaupun sedikit datar karna pandangan it merusak mood ku.

" Nad, Kenal sama difa?" Tanya salah seorang teman baruku.
Sebut saja dy algha

"Hmm.. Kenal.. Kenapa gha?

"Engga, tadi gw dengar lu nyebut nama difa, kebetulan difa, 'kan bergabung dengan kita."

"Oh begitu, ea g' apa-apa, dy Gf kamu?"

"Ea g' lah, dy mantan na teman aku, kasian dy, d tinggalin sama teman aku, saat dy sedang terpuruk begitu dalam, dy butuh hiburan jadi gw ajak aja kesini."

"Karma." Esha nyeletuk pedas.

"Hah? Apa na karma sha.?

"It judul lagu gha."

"Akh g' nyambung lu sha."

Aku terkekeh melihat raut wajah esha dan algha.
Tapi ku mengerti maksud esha, karma bagi difa, it maksud esha.
Karna dulu difa, meninggalkhan ku saat ku sedang dalam kesakitan yang parah dan sangat membutuhkhan kehadiran na
Namun dy memilih wanita lain dan meninggalkhan ku.
Dan kali ini hal it terjadi pada na.

"Hai gha, mav gw telat. Tadi macet." Suara it menyadarkhan ku dari lamunan.
Saat ku mencari arah suara it,
Ea tuhan jantung ku berdetak lebih keras lagi
Saat mata ku bertemu dengan mata it, mata diffa.

"Nadila.". Difa menyebut khan nama ku.

"Hai fa." Jawab ku tenang, sebenar na tidak begitu kenyata'an.
Dadaku terasa sesak menahan air mata, saat melihat dan berjabat tangan dengan difa. Semua benar-benar kembali, semua na kembali menyayat hati.

Kenapa harus ku bertemu dengan na, kenapa?
Hal ini membwt ku kembali merasakhan sakit, ku mohon hentikhan ini ea tuhan.
Ku memang masih menyayangi difa, namun luka ini terlalu dalam susah payah ku membalut luka ini seorang diri, kenapa saat ini luka it kembali berdarah lagi.

"Nad, kita pulang yuk." Ajak esha, ternyata esha mengerti
'Kan hal yang ku inginkhan.

"Lho koq pulang esha, kita khan baru d sini.". Ucap cheky, cheky adalah teman dekat esha

"Ea sha, koq pulang." Sambung algha.

"Gw sama nadila juga punya janji yang lain, jadi kudu bagi waktu juga gha. Dan lu mw bareng gw g' ky?"

"Ea dah gw ikut dah sekalian." Jawab cheky.

"Ea udah kalau gitu yuk." Ajak esha.
Aku hanya diam tak lagi bicara, ku benar tak bs menahan lebih lama lagi, ku tak mw menangis d sini.

Berpamitan pulang saja esha yanng ambil alih, aku dan cheky jalan d depan esha.
Tapi saat ku sampai d depan mobil esha, sebuah suara yang ku kenal memanggil, dan langkah ku pun terhenti.

"Nad, bisa bicara sebentar.?" pinta difa

"Mav fa, kita buru", esha yang menjawab dan menuntut ku masuk kemobil na, kali ini cheky yang ambil alih mengemudi.

"Sha, esha gw tw lu marah sama gw, karna udah nyakiti nad, tapi kasih gw waktu sedikit aja bwt ngomonk sama nadila." lagi-lagi." difa meminta

"Mav fa, gw g' mw liat nad sedih lagi, cukup fa, jangan bwt dy sedih lagi dengan hal ini mav."

Aku hanya diam dan diam, esha yang mengerti aku. Ku biarkhan dy menghadapi difa.
Obrolan singkat it berakhir saat cheky menjalankhan mobil esha, dan difa? Tertinggal d parkiran it.
Aku duduk sendiri d belakang pengemudi
D depan ku ada cheky dan esha, mereka saling bergantian menoleh kebelakang, melihat ku apakah ku menagis atau tidak.

"Ky, lu koq g' bilang kalau difa bakalan ikutan kopdar?"

"Gw aja g' tw, sumpah gw g' tw sha, klw gw tw gw pasti laporan ke lu. Gw juga g' mw kali nad kayak gene, gw aja kaget tadi."

"Algha, pasti algha. Tapi kita g' bisa nyalahi algha, karna algha g' tw apa-apa tentang nad dan difa."

Cheky hanya mengangguk-angguk khan kepala saja seperti burung kutilang,
Dan aku masih saja bungkam.
Kediaman ku it membwt ku tak sadar bahwa sudah setengah jam lebih ku terdiam dan mobil eshaternyata  t'lah berhenti dengan sempurna dari tadi d depan rumah ku.

"Sha kamu sama cheky jangan pulang ea? Temani aq?"

Cheky dan esha saling berpandangan dan secara bersama'an mereka berdua menganggukhan kepala bersama-sama.
lalu kami bertiga duduk besama d teras rumah ku.
Mereka berdua begitu bersemangat ingin membwt ku tertawa namun ku tak bisa tertawa yang ada air mata ku mengalir tanpa jeda.

"Nad, lu g' apa" khan?" Tanya cheky.

" Sini gw peluk." Kata esha

Ku menatap mereka berdua.
Ku melihat pancaran kesedihan dari mata mereka, mungkin mereka merasa apa yang ku rasa.

" ky, sha, aku g' apa-apa, aku baik-baik aja koq. Hanya ingin sedikit mengurangi beban hati dengan menangis, ku merasa sedikit lega dan tenang. Kejadian tadi memang membwt ku kembali down, tapi hanya sedikit saja, percaya sama aku.
Aku kuat koq, aku bisa melawan it. Kehadiran difa malam ini mungkin 'kan kembali menghantui ku lagi. Namun ku udah siap 'tuk hadapi hal it, jujur ku memang masih menyayangi difa, namun ku tak mudah bwt ku membuka hati ini 'tuk dy lagi, jika sewaktu-waktu dy kembali dan meminta ku mengisi hari-hari na lagi."

"Ship.. It baru sahabat gw." Kata cheky
Dan esha tersenyum sambil memberikhan kedua jempol na padaku.

"Bukan kah jika dy memang jodoh ku, pasti waktu it 'kan datang kembali, tapi tidak 'tuk kali ini, ku belum siap karna ku tak mw jatuh 'tuk yg kedua kali."

Kedua mahkluk edan it hanya angguk-angguk kepala sedari tadi
dan dihiasi dengan senyum d bibir mereka masing-masing.

Ku yakin setelah malam ini, aku pasti 'kan kembali d hantu bayang-bayang difa, dan kenangan bersama na.
Namun ku harus kuat hadapi na, ku tak boleh lagi meneteskhan air mata.
Ku harus kuat dan tegar melawan kesakitan dari masalalu.
Walaupun it tak mudah namun ku harus bisa.

Karna jika hari-hari ku hanya terisi dengan isak tangis ku sendiri sama hal na ku membiarkhan masalalu it menyakiti ku lagi
Dan jika malam-malam ku terhiasi dengan mimpi-mimpi masalalu yang mungkin 'kan menikam ku lagi sama hal na ku membiarkhan luka ku berdarah lagi.

Ku tak 'kan menjadi bodoh lagi, ku 'kan belajar menjadi tegar dan dewasa
Dalam melewati bayangan masa lalu it.
Karna ku tak ingin lagi rasa sakit dan perih it kembali menggerongoti semangatku
Karna ku ingin menjadi wanita yang kuat dan tegar dalam menghadapi
Lika liku kehidupan
Dan perjalan cinta kaum lines yang lain na pasti juga begitu
ada jatuh dan bangun..
kejatuhan yang ada kali ini menipaku
namun ku harus tetap tegar
Dan wajib belajar menjadi wanita dewasa yang tegar.

"Selamat datang masalalu..
Ku 'kan melawanmu dengan senyum ku..
dan tangisku tak lagi ada 'tu mu."