Masalalu benar-benar datang kembali mengusik ku.
Menghantui ku lagi..
Tangisan it terjadi lagi..
Sakit it benar-benar berdarah lagi..
Sakit menggingat mengapa difa sama sekali tak perduli
Dengan kesakitan ku dulu.
Mengapa menggabaikhan ku saat ku dalam kesakitan..
Mengapa..?
Dan kini difa hadir lagi..
Menyapa ku lagi..
Menggingatkhan ku lagi..
Bahwa difa sebenar na yang ku butuhkhan..
Bukan orang lain..
"Nad..
Kamu ingat difa ea..?". Tanya Esha, sambil memberikhan secangkir kopi dan sepiring gorengan.
"Ea sha, tadi difa sms aku, dy ngajak aku ketemuan lagi."
"Terus? Kamu terima? Kamu mw ketemu difa?"
"Aku g' tw sha, ini udah yang ketiga kali na dy memohon padaku, agar ku mw menemui dy."
"Tanya hati kamu, niat g' nemui dy.?"
"Aku bingung. Aku merindukhan na, ingin menemui na, namun ku takut pertemuan it menyakitkhan lagi."
"Kamu harus tegas nad, temui dan lawan sakit it."
"Inginku begitu tapi ku takut, ku tak sanggup. Menurut mu bagaimana?"
"Manusia it berhak mendapat khan kesempatan kedua. Kurasa tak ada salah na, namun jika it membwt sakit aku tidak 'kan mengijinkhan mu."
"Ea sha, difa memang berharap mendapat kesempatan kedua."
"Jadi kamu setuju 'tuk menemui na? Tapi jika ragu sebaik na jangan nad."
"Aku belum tw. Nanti ku fikirkhan lagi sha."
Senja sore it begitu indah.
Awan berwarna jingga hiasi dunia..
Nadila dan esha
Memandangi awan-awan it menikmati indah na sore ini, d temani secangkir kopi dan sepiring pisang goreng.
Angin sore it seperti alunan musik yang lembut dan sejuk
* * *
Hari ini adalah hari yang d tentukhan oleh difa.
Jam 4 sore ini difa 'kan menunggu nadila d taman kota
Dan nadila belum memberikhan jawaban IYA Atau TIDAK 'tuk Difa.
Jika nadila, hanya diam dan diam kasihan juga difa, harus menunggu na
Berjam-jam..
Nadila, tidak mw membwt difa menunggu.
Setelah Satu Jam Nadila, berfikir akhir na nadila, menjawab IYA.
IYA dy 'kan menemui difa.
Sebuah Pesan Singkat pun dikirim nadila 'tuk Difa.
Dan nadila pun segera bersiap-siap 'tuk Menemui difa, sore Ini.
* * *
Selanjut na..
"Hai.." Sapa nadila, ternyata difa sudah menunggu duluan d taman ini
"Hai, makasih ea udah mw datang."
"Ea sama-sama fa."
"Gemana keada'an kamu, sekarang."
"Hmmm seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja tanpa kamu."
"Syukurlah jika memang begitu, aku senang mendengar na."
"Terus maksud kamu ngajak aku ketemuan 'tuk apa.?"
"Maksud ku meminta mu datang kesini karna ada yang mw aku omongi."
"Oh ea? Apa it.? Katakhan saja sekarang."
"Sebelum na aku mw minta mav atas sikap yang t'lah menyakitimu, dan meninggalkhan mu saat kamu membutuhkhan ku."
"Hal it sudah ku lupakhan, dan aku juga t'lah memav khan mu,sebelum perminta'an it kau sampai khan."
"Terimakasih, namun aku tw kau berdusta, aku tw kau masih sakit dengan kelakuan ku. Dan Membenciku pasti na."
"Sama-sama, tapi aku tidak berdusta. Dan aku tak merasa sakit lagi, tidak juga membencimu."
"Apapun it hanya hatimu yang tw nad."
Nadila hanya diam, mendengar kalimat yang d ucapkhan difa.
Dan hanya menunduk, benar-benar diam tanpa kata.
"Nad, boleh ku lihat luka mu it."
"Sebaik na tidak usah."
"Tapi ku ingin melihat na." Paksa difa.
"Ea, lihat lah."
Difa pun mendekati nadila.
Lalu difa, berjongkok d hadapan nadila, memandangi bekas luka yang ada d kaki nadila.
"Nad, boleh ku melakukhan sesuatu."
"Lakukhan lah jika sesuatu yang ingin kau lakukhan it tak merugikhan ku."
"Tentu saja tidak sayank."
Sayank? Dalam hati nadila menggulang kata-kata it.
Sudah lama nadila tak mendengar kata-kata sayang it, baik dari bibir difa mw pun dari orang lain.
Jujur nadila merindukhan kata-kata manja it hadir 'tuk na.
"Ea lakukhan lah jika memang tak merugikhan ku."
Difa yang mendapat ijin dari nad, lalu menyentuh luka it.
Wajah difa, terlihat miris dan sedih melihat luja it.
Difa, mendekat khan wajah na keluka it, lalu bibir na menyentuh luka it, mencium luka it.
"Mavkhan aku, mavkhan atas terabai na kesakitan mu ini, ku mohon berikhan aku kesempatan 'tuk menggobati lukamu, juga luka hatimu, ku mohon kembali padaku, ku sadari smua, smua ini bahwa memank cuma kamu yang terbaik 'tuk ku, ku mohon berikhan aku kesempatan it nad." Ucap difa, dan menggenggam jemari nadila.
Tanpa disadari oleh nadila, tetesan mungil yang bening menggalir dari sela-sela mata indah na.
Genggaman tangan difa dijemari nadila terasa begitu erat, sorot mata difa, memancarkhan kesungguhan, ketulusan, keseriusan 'tuk memperbaiki segala kesalahan yang ada.
"Jawab aku nad, jangan diam. Jujur padaku,katakhan padaku, bahwa kamu sebenar na masih menyayangiku, dan mengginginkhan hal sama dengan ku. Keinginan 'tuk memperbaiki hubungan kita yang pernah kandas karna kebodohan ku yang memilih wanita yang salah dan meninggalkhan mu."
Namun nad, masih saja diam, walaupun benar yang dikatakhan difa, klw nad, memang menyayangi difa, masih sangat mencintai difa, namun nad, ragu. Maka yang hadir hanya sebuah kebisuan dari nad.
"Nad, ku mohon jawab aku, katakhan nad, klw kamu masih sayang aku, jangan bohongi hati kamu. Ku ingin kita bersama lagi, ku 'kan bukti khan bahwa ku sungguh-sungguh, tidak hanya sekedar kata. Jawab aku nad."
Air mata nad, semakin deras menggalir dan selalu berhenti ditepi bibir na.
Difa yang menyaksikhan hal it, difa yang melihat tetesan bening it menghiasi wajah na, berusaha menghentikhan na, dengan menyentuh tepi mata na, menghapus sisa air mata dengan jari-jari na.
"Nad, mengap air mata it menghiasi wajah mu?, apakhan kata-kata ku menyakitimu? Atw kamu merasakhan sakit it kembali menggerogoti hatimu? Nad, berikhan ku kepercayamu lagi, 'kan ku bukti khan segala na, bahwa aku buka lagi butchy yang bejad 'tuk mu. Tak 'kan lagi meninggalkhan mu. Ku mohon nad."
Nadila, menggangkat wajah na yang sedari tadi menunduk, dan mata na beradu dengan mata difa, dan tatapan it terlihat sayu.
Bibir nad, bergetar seperti terserang hawa dingin, namun sebenar na tidak, it terjadi karna nad, menahan apa yang ingin ia sampaikhan, namun terasa sesak jika ditahan berlama-lama dilaci hati na.
"Fa, aku memang masih menyayangimu dan sangat mencintaimu. Dan semua it juga menyiksaku apabila ku kangen sama kamu. Ku mencoba melawan sakit it sendiri tanpa ada na kamu, tanpa cinta kamu. Ku juga menyadari tak bisa ku menyalahkhan mu begini, karna ku juga mengakui salahku. Salah ku yang terlalu sering menyakitimu, melukaimu, mungkin it tak terhitung, mungkin karna it juga kamu meninggalkhan ku, karna jenuh dengan sikap ku, muak dengan sakit yang selalu ku beri padamu." Kata-kata nad, terhenti sejenak karna tangis na mulai terisak.
"Hanya satu yang kusesalkhan mengapa saat ku benar-benar membutuhkhan mu kamu, malah pergi dariku, it yang membwt sakit ku teramat sakit. namun sekali lagi ku sadari it smua juga karna egoisan ku, kesalahan ku yang berkali-kali menyakiti mu, yang bwt kamu berlalu dariku dan berlabuh dihati yang lain."
"Nad, apapun it salah mu, ku tak menyimpan dendam nad, sama sekali tidak. Hal it terjadi karna memank kebodohan ku yang terlalu bodoh, namun kali ini ku mw perbaiki smua na. Salah mu salah ku, ku mw kita perbaiki bersama, dan menjaga jangan ada lagi kesalahan it diantara kita. Ku sungguh-sungguh nad, sangat sungguh-sungguh nad." Sekali lagi genggaman it terasa begitu erat dan hangat d jemari nad.kali ini genggaman it dibalas oleh nad, apakah it sebuah tanda klw nad, menerima difa lagi..?
"Nad, aku sayang kamu, sangat nad." Difa, bangun dari jongkok na, lalu dengan tubuh yang sedikit membungkuk difa menyentuh wajah na dengan kedua tangan na lalu mengecup lembut kening nad. Difa, tidak perduli dengan keramean taman sore it, dengan tatapan orang-orang pada na dan nad. Karna bagi difa, ini dunia difa, dan mereka ada didunia mereka, maka hak masing-masing dan berkuasalha d dunia masing-masing tanpa mengusik dunia lain.
"Kembali padaku nad, aku membutuhkhanmu, membutuhkhan kasih sayang dan perhatian mu. Hatiku merindukhan chanda tawa mu, hari-hariku merindukhan warna warni senyuman manismu, kembalilah padaku nad, ku mohon." Difa mengulirkhan tangan na, menunggu sambutan dari tangan nadila.
"Fa, ku takut."
"Nad, percaya padaku, 'kan ku buktikhan bahwa sungguh, tidakhan lagi menyia-yiakhan kamu, dan 'kan ku jaga hubungan kita."
"Tapi tetap saja ku takut, takut kehilangan mu lagi fa."
"Nad, aku janji bahwa kamu tidak 'kan prnah kehlangan aku lagi."
Mata mereka kembali beradu, nad mencari sesutu dari tatapan mata it, mata difa.
Mencari kejujuran benar kejujuran bukan hanya sekedar kata manis yang diucap difa.
Dan sebuah cahaya ketulusan ditemukhan nadila, dan kejujuran.
Namun tetap saja nadila masih merasa takut, takut kehilangan difa, karna nadila tak 'kan siap menerima kesakitan it lagi.
"Fa, boleh ku minta sesuatu."
"Apa sayank?"
"Peluk aku, peluk aku yang erat."
Difa, tersenyum mendengar perminta'an nadila. Difa pun memeluk erat tubuh nadila, sangat erat.
"Fa, aku sayang kamu, aku takut kehilangan kamu, janji padaku, bahwa kamu tidak 'kan meninggalkhan ku lagi fa."
"Aku janji sayang, aku tidak akan meninggalkhan mu lagi nad. Karna aku juga merasa sakit karna perbwtan ku sendiri. Kali ini ku 'kan buktikhan bahwa ku benar-benar sangay menyayangimu. Dan ku 'kan memulai na lagi dari awal."
"Jangan lagi fa, jangan lagi tinggalin aku, karna aku g' mw it terjadi lagi fa, aku g' kuat nahan sakit it sendiri fa."
"Nad, saat ini ku ada didekat mu, kamu g' 'kan lagi sendiri, aku 'kan menemani kamu mulai saat ini, s'lalu. Karna ku juga tak ingin kehilangan kamu lagi nad."
Nad, meremas kuat genggaman tangan difa, seolah-olah nad, takut terjatuh lagi dalam sebuah jurang yang menyakit khan, dengan remasan it nad, merasa berpegang pada sebuah pilar yang kokoh dan menyakind khan diri bahwa ia tak 'kan lagi terjatuh.
Dalam pelukhan difa, nadila masih menangis, menangis karna bahagia karna mampu merasakhan hangat dekapan wanita yang ia cintai.
Dalam pelukhan difa, sebuah harapan tersimpan begitu indah dalam laci hati nadila.
Harapan yang indah.
Berharap hubungan ini 'kan menjadi indah..
Indah tanpa noda lagi..
Dan berharap s'lama na begini..
*ketika hatiku kembali padamu..
Ketika tubuh mampu mendekapmu..
Ku meminta padamu jangan lagi kau
Tinggalkhan ku..
Jika it terjadi kembali pada kisah ini
Lebih baik ku tak lagi menyatu dengan bumi..*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar