Senin, 24 Oktober 2011

The Rain

Seperti biasa
Mereka saling mendesak..
Saling mendorong..
Dan menolak..
Kurasa mereka belum bisa berkerja sama
Mendingin khan dunia
Dari terik na mentari d siang hari..
Namun meskipun
Bagaimana pun ku tetap mencintai mereka
Karna mereka mampu bwt ku tersenyum dalam perih
Mw pun pedih..
Hujan..
Nama mereka
Adik dari sank gerimis
Anak dari sank petir
Namun ku tak menyukai petir
Dy bising, dy ricuh dan berantakan..
Seperti petasan yang menyala..
Gerimis..
Hujan..
Pertama kali mereka menyapaku
Ku tertawa, ku gembira..
Sampai detik ini
Ku masih bisa merasa khan sentujan mereka
Waktu it..
Dan malam ini
Mereka hadir kembali..

Rintihan Terakhir...

Dia seseorang gadis yang berusia 21tahun, dengan penampilan nya yang tomboy dan jutek sekaligus cuek dia dipanggil boy, atau Neb-Neb.
Gadis ini dikenal sangat jutek dan cuek tapi bagi yang sudah menggenalnya pasti tau kalau gadis tomboy ini sangatlah baik tapi kadang juga nyebelin, bukan kadang sih tapi memang sangat menyebalkhan, tapi juga ada sisi nyenenginnya kok.

Dan ternyata dibalik ketomboyan nya dia mempunya hati yang lembut dia begitu menyayangi ibunya, neneknya, dan satu lagi kekasihnya
Dia jutek tapi itu gadis juga sangat sabar
Sabar dalam menjalanin kisah hidupnya yang tak indah seperti kebanyakhan nya.
Mungkin ini salah satu sebab kenapa dia begitu terlihat cuek
Dan kadang terlihat angkuh dalam hidupnya, karna dia iri pada kehidupan orang lain yang dapat merasa ketenangan dan kenyamanan didalam rumahnya masng-masing, tapi Walaupun dia terkadang iri dia tidak pernah sedikitpun bertidak kurang ajar, mengusik atau tidak sopan pada kehidupan orang lain, karna baginya itu adalah garis tangan masing-masing
Dan mungkin ini garis tangannya yang harus dijalaninnya.

Baginya kehidupan itu layaknya seperti bara, panas dan dapat melepuhkhan tangan yang menggengamnya, hidup ini tak mudah untuk dijalanin apalagi jika tak pernah bertemu dengan keindahan
Maka semakin sakitlah jantung bagai teriris seribu pedang cleopatra dan hanya air mata yang menemani saat keindahan itu kian menjauh dari kita.

Apakah kehidupan itu, selain dari banyaknya pertanyaan-pertanyaan dengan jawaban-jawaban yang amat sedikit? Apakah kehidupan itu, jika hanya dalam sekejap, saat tubuh kita didera kelainan, kita pada akhirnya hanya mampu menerima tanpa mampu berbuat apa-apa lagi? Apakah kehidupan itu, selain dari hanya dapat menerima apa saja yang terjadi karena ketak-mampuan akal untuk mengubah kelemahan daging kita sendiri? Apakah kehidupan itu sesungguhnya? Sementara di luar sana, orang-orang bergerak dalam langkah yang bergegas-gegas untuk mengejar segala cita-cita dan hasrat mereka, terperangkap dalam tubuh yang didera penyakit, kita terpaksa harus menerima segala sesuatu yang dilakukan terhadap tubuh ini sekedar hanya untuk memperpanjang nafas kita saja? 

Maka pada saat ia tau bahwa dirinya didera penyakit
Sebuah kangker yang bersarang diotaknya dia
Berusaha tetap tegar walau kadang kerapuhan menyiksanya
Dia coba bertahan bahkan saat sakit itu datang berjam-jam lamanya, menyiksanya dia masih sanggup membuat senyum dibibirnya
Walau senyuman itu terlihat getir.
Dan dengan tertawa dia pernah berkata bahwa dia takkan takluk dengan penyakitnya.

Namun saat dirinya terbaring lemah, ku bertanya
Diakah gadis itu yang dulu begitu ceria
Apakah dia gadis itu yang dulu mengalami keceriaan dalam hidupnya walaupun kehidupannya tak indah
Tapi dibuatnya seindah mungkin dengan caranya sendiri
Hilang segalanya tawanya, cerianya, semangatnya saat ini juga saat dia terbaring lemah tanpa mampu berbuat apapun.
Hanya beberapa bulan saja ku dapat melihat ketegarannya
Saat dia tau penyakitnya dan saat ini kelemahannya yang kulihat. Tubuh itu lemah sangat lemah, terlihat sangat lemah, sesekali ku mendengarnya menggumam akh………

Dan pada akhirnya ku sadar semuanya tak dapat lagi dihentikhan. Semuanya berjalan sesuai proses alam yang terjadi. Dan waktu hampir tiba baginya. Karna pada akhirnya, toh, kita akan mengalamin proses yang sama. Semuanya akan menuju kesana akhir, usai. . . .

Kumelihat mata gadis itu terpejam, namun dari sela-sela kelopak mata itu, mata yang tertutup itu, ku melihat mengalir tetesan air bening dan lembut. Dan ku kembali mendengar gadis ini bergumam, akhhh, terdengar sangat berlahan.aku mengira gadis ini ingin berkata sesuatu, namun ternyata tak mampu lagi dia menyampaikhannya sendiri. Apakah yang sedang gadis ini rasakhan? Apa yang sedang dia fikirkhan? Dan apa yang ingin dia katakhan? Dunia berlahan-lahan meninggalkhannya. Tapi aku merasakhan dia masih sadar, sadar dalam ketak mampuannya menceritakhan keada’annya. Dimanakah fikirannya saat ini?  Sementara aku berdiri disampingnya, menggenggam tangannya, berbisik ditelinganya, memanggil namanya, tapi dia tak lagi berada bersamaku, gadis ini semakin jauh dariku, kian jauh dan jauh……

Ea allah, Mengapa gadis ini begitu lemah?
Gadis, yang sangat kuat dan mampu melawan apa saja tanpa mau merasa kalah……
Gadis, yang begitu angkuh menjalani kehidupan yang kau ciptakhan dan tiba pada akhirnya hanya bisa pasrah terbaring lemah tanpa mampu berbuat apa-apa lagi…….

Aku bergetar menyaksikhan dan memandangi wajah gadis ini. Tubuh yang begitu licah dan gesit dalam melonjati setiap coba’an. Tubuh yang tegas dan tegar saat menerima akibat setiap hal yang dia lakukhan. Tapi mengapa saat ini yang tersisa hanya tubuh yang lemah dan tak berdaya, bahkan untuk menggerakhan tangannya saja dia sudah tak mampu lagi. Dimanakah dia saat ini? Dimana?

Diluar sana aku mendengar suara riuk pikuk, percakapan orang-orang yang mungkin ku kenal atau tidak ku kenal. Tapi diruangan ini, hanya ada kesunyian berdiam diri, mengambang diudara bersama bau obat dan Klikan alat penyambung jiwa. Pada akhirnya kita semua akan bergelut dengan diri sendiri, dan pada akhirnya kita semua akan sendiri menghadapi diri kita. Aku yang tengah berada disisi gadis ini, merasa terpencil. Jauh dan sendiri. Dalam hati ku bicara sendiri dan bertanya sendiri namun tak satupun kutemukhan jawaban untuk setiap pertanya’an ku itu.
Ku kembali menggengam tangan gadis ini
Berbisik lagi, berkata lagi, meminta lagi agar dia tetap tabah menerima akhir yang tiba. Dan ku mulai mengeser tubuhku beranjak dari sisinya. Ku melangkah sendiri meninggalkan ruangan ini, dan melepaskhan piyama khusus yang berwarna hijau ini dan mengatukhan nya lagi pada tempat semula,lalu keluar. Dunia terlihat tak berubah. Namun aku merasa sangat sendiri, sendiri tanpa gadis itu, tanpa senyuman angkuhnya, tanpa kata” tajamnya, tanpa keusilan nya, ea aku mutlak sendiri, hanya sendiri.

Kesederhana'an Itu

Inilah enakhan na tinggal didesa, dimana udara na yang masih sangat segar, dan sejuk sekali.
Pagi dihiasi oleh butiran embun yang begitu indah, menyentuh dedaunan dan rerumputan
Aku merasa sangat nyaman dengan keadakan ini.


Dikota ku jarang mendapatkhan hal seperti ini,
karna kota dimana tempat ku berasal dan tempat ku tinggal
sebenar na, sudah tercemah oleh asap-asap kendara'an sangat lah kotor.
Belum lagi aliran sungai yang s'lalu tersumbat karna sampah-sampah yang
sengaja dibuang kesungai itu
Yang akhir na berakibat buruk, karna hal itu dapat mengudang datang na banjir.


Sangat lah jauh beda dengan desa ini, desa ini sangat sejuk dan udara na begitu segar.
Belum lagi sungai dan kali-kali kecil na.
Begitu jernih dan bersih, dan dingin seperti air yang baru keluar dari mesin pendingin.


Dan aku tidak merasa dirugikhan jika aku diminta
Berlama-lama didesa ini.
Karna desa ini sangat lah indah dan nyama.
Para penduduk na juga sangat ramah-ramah dan begitu welcome pada pendatang baru didesa ini.


Aku yang baru tiga hari didesa ini,
Merasa begitu sangat menikmati keindahan desa ini
desa ini lumayan jauh dari kota malang
Butuh waktu 2 sampai 3 jam 'tuk sampai dikota malang.
Dan kepala sekolah tempat ku mengajar
Meminta ku 'tuk pindah kedesa ini
Ku tidak tw dalam jangka waktu yang lama tw sebentar
Yang pasti aku 'kan menjalani na dulu.


Dan pagi ini, aku 'kan mengajar anak-anak desa ini.
Disebuah sekolah yang keada'an na lumayan
Memperihatin khan.
Namun walaupun keada'an sekolah seperti itu,
anak-anak ini sama sekali tidak lah merasa malu atw bermales-malesan ria mengikuti
Pelajaran disekolah ini.


Namun sebalik na, mereka sangatlah bersemangat sekali
Pagi-pagi sudah tiba disekolah.
Para murid-murid yang cewek menyapu halaman sekolah,
mereka berbagi tugas, sebagian menyapu halaman,
sebagian lagi meyiramin bunga-bunga yang ada diperkarangan sekolah.


Yang sengaja ditanam agar perkarangan sekolah ini tetap terlihat hidup dan penuh keindahan
Walaupun dinding-dinding na sudah tidak lagi terlihat bersih seperti sekolah lain na, karna cat tembok it sedikit demi sedikit mulai terkelupas dan terlihat lah wajah asli dinding-dinding itu,
yang terbwt dari batako, semen dan pasir
Terlihat pasir it seperti longsor jika tersentuh oleh kita.


Dan murid-murid cowok na membersikhan papan tulis ada juga yang membantu
mengankat air 'tuk menyiramin tanaman tersebut
Begitulah kegiatan murid-murid disekolah ini setiap pagi na.
Tiba saat lonceng berbunyi mereka pun bergegas memasuki kelas na masing-masing dan duduk dibangku na.


Pagi ini ku mengajar dijam pertama
ku mengajar dikelas 6.
Karna jam pertama pagi ini adalah jurusan ku
Yaitu bahasa indonesia.


Kebanyakhan orang tidak menyukai bahasa indonesia
Karna bagi mereka bahasa indonesia mereka sudah benar
Sebenar na semua itu belum lah bisa dibilang benar.


Aku saja masih merasa butuh belajar karna pengatahuan ku tentang bahasa indonesia bwt ku masihlah kurang.


"Pagi anak-anak."


"Pagi bu."


"Bagaimana keada'an Kalian Pagi Ini?,
Masih Memiliki semangatkan 'tuk Mengikuti pelajaran Ibu."


"Masih bu." Jawab mereka lagi bersama-sama.


"Bagus klw begitu. Hari ini ibu
'kan membahas tentang bagaimana cara na menghargai orang lain
dengan cara menghargai diri kita terlebih dahulu."


Smua murid ku pagi ini masih sama seperti beberapa hari yang lalu
Masih tekun dan sangat antusias mendengarkhan penerangan dariku.


"Ada yang tw bagaimana cara menghargai diri sendiri?
Dan berlanjut dengan menghargai orang lain."


Aku bertanya dan berharap ada yang tw
dan bersedia memberikhan ilmu na pada teman-teman na yang ada diruangan ini.


Dan semenit kemudian seorang murid cewek mengangkat jari na sebagai tanda bahwa dy bersedia menjawab pertanya'an dariku.


"Menghargai diri sendiri, dengan menyayangi diri kita,
baru menyayangi orang lain.
menjaga diri kita terlebih dahulu baru kita menjaga diri orang lain yang kita kasihi."


Aku merasa puas dengan jawaban muridku itu.
Aku akui murid ku yang satu ini memang pintar dan sangat teladan.
Aku yakin anak ini bisa menjadi kebangga'an orang tua na
Dan ku berharap begitu juga yang lain na.


Menjadi kebanga'an keluarga masing-masing, dan esok saat dy dewasa dy mampu membantu menolong kesusahan yang terjadi dalam keluarga na.
Dan belajar dengan sungguh-sungguh, tanpa ada sedikitpun niat 'tuk
Bermain-main.


Karna hidup didesa ini sungguh lah dan sangat-sangat Sederhana sekali.
Bersyukurlah bagi orang-orang yang dapat
hidup enak diluar sana bisa merasakhan enak na bermain-main ditime zone
Namun anak-anak desa ini cukup dengan bermain lompat karet
Mereka sudah bahagia.


Diluar sana anak-anak remaja menghabiskhan waktu malam minggu dengan berpakaian serba sexy dan melakukhan hal yang tak pantas.
Namun remaja desa ini mengaji atw membantu ibu na dirumah membwt kue 'tuk dijual mereka sudah cukup bahagia karna bisa berada disamping ibu na
Dan merasakhan kasih ibu, karna bukan keindahan malam yang dy butuh khan esok hari.


Dan diluar sana anak remaja lain na menghabiskhan waktu dengan berbalap liar
Namun didesa ini mereka membantu ayah na memperbaiki jala yang rusak agar bisa dipakai lagi, dan dapat menangkap ikan.


Dengan ini mereka sudah bahagia karna mencari makan 'tuk hidup sangat lah susah.
'Tuk itu mereka mensyukuri yang ada tanpa mw bertingkah tw neko-neko dalam hidup mereka


Karna mereka menyadari bahwa smua yang ada hanyalah titipan
'Tuk it bersyukur lah dengan yang tanpa harus menuntut yang lain.


Aku banyak belajar dari penduduk desa ini, dan kehidupan yang ada didesa ini.
Ku banyak mendapat ilmu.
Dan ini dapat ku jadikhan pegangan dalam hidupku


Bahwa aku harus bersyukur dengan apa yang t'lah ku dapatkhan.
dan mensyukuri dengan apa yang diciptakhan tuhan 'tuk ku.


dan menjadi seorang guruyang giat dan tekun mengajari murid-murid na
karna menjadi seorang itu juga menyenangkhan.
dan menjadi pahlawan tanpa jasa it juga suatu hal yang membahagian khan diri sendiri.


tanpa harus mendapat imbalan atw suapan 'tuk mendapatkhan hal-hal yang lebih.
Cukup dengan mensyukuri yang ada dan
berterima kasih pada sang maha kuasa atas nikmat dan segala rahmat yang ada.