"Lu mau bareng gak ndin?" Tanya dewa
"Barenglah, udah sekalian aku disini."
"Yaudah ayok, ngapai masih duduk disitu?"
"Iyaaaaa bos."
"Ney lu yang bawa, tangan gue, masih gemeteran."
Andin, mengangkap kunci mobil itu dengan sempurna.
Andin dan dewa memang sahabatan sudah lama baik,
buruknya mereka sudah sama-sama taulah.
Tapi terkadang sikap keras kepala dewa dan pendirian yang kadang
Terlalu kokoh membuat andin bete abissss.
Sekali A ya tetap A dan tak 'kan berubah.
"Saran aku ya wa, lebih baik lu kasih tau aulia, tentang penyakit lu itu."
"Jangan, belum saat nyan ndin."
"Jadi kapan wa, kapan? Jangan sampai dia tau duluan. Dia bakal merasa dibohongi wa."
" Dia gak 'kan tau, kalau lu gak kasih tau."
"Bisa aja dia tau, tanpa aku kasih tau."
"Udah nyetir sono, gue mau tidur bentar, lemes gue."
"Kamu kalau dikasih tau gitu dah wa, susah."
Lagi-lagi dewa, membuat andin, jengkel.
Kapan si ini anak berubahnya, sekali-kali dengerin aku kek, lagian yang aku bilang kan juga benar.
Nanti kalau udah bermasalah aja pasti nyesel.
Bukanya lebih baik kan, jika aulia tau dari sekarang, bukan nanti-nanti susah akh ngasih tau nya.
Andin, ngomel-ngomel sendiri dalam hatinya.
10 menit kemudian
Mereka sampai digerbang kampus.
Mesin mobil sudah dimatikan, tapi dewa masih saja molor, andin mengeleng-geleng melihatnya.
"Wa, dewa bangun nyet, udah dikampus ney. Aku mau langsung masuk, kamu mau nunggu aulia dimana?"
"Hmmm.. Disini aja deh, nanti bilang aulia, gue nunggu dimobil."
"Owh ya udah, nanti aku sampaikan. Aku masuk dulu ya."
"Yupz, yang bener belajarnya."
"Beres bang, ehehhee."
Hooooaaammm..
Dewa, mengguap lagi, sisa kantuk masih menghiasi matanya.
Tiba-tiba Kepalanya terasa berat, barang kali akibat tidur yang seiprit tadi.
Jadinya begini gumam nya dalam hati.
Lalu tak lama dari itu aulia muncul, dengan senyum manis nya.
Menyapa kekasih kelaki-lakian nya itu.
"Udah lama sayank.? Tanya aulia
"Ssstt.. Sayang-sayangan dikampus, ini kampus kamu lho, kalau ada yang dengar gemana.?"
"So whaaattt?"
"Huuu dibilangin bandelll, ya udah yuk jalan."
"Andin? Gemana?"
"Andin, pulang sore, nanti kita balik lagi jemput dia."
"Owh ya udah kalau gitu."
Aulia pun masuk kemobil, dan duduk didepan disebelah dewa.
Saat kaca mobil tertutup aulia pun memberi satu kecupan hangat dibibir dewa, dan lumutan lembut.
"Aku sayank kamu." Kata aulia
"Aku juga sayank kamu jelex." Balas dewa sambil mencubit manja idung aulia.
Dan mesin mobil dihidupkan, dan siap untuk dikemudikan kemana pun.
"Kemana kita sayank."
"Maunya?"
"Hmm.. Kamu udah makan belum?"
"Belum, aku kan nunggu kamu. Makan bareng."
"Halaaaah.. Sekarang makan bareng, entar udah tua ogah-ogahan."
"Ikh kaga yeeeee, mau nya tetap indah sama kamu."
"Iya sayank, itu juga inginku. Makasih ya udah sayank sama aku."
"Makasih juga buat kamu, yang udah tulus sama aku."
Dewa, meraih jemari aulia, dan menggenggam nya erat dan sangat erat.
Seakan takut genggaman itu lepas.
Aulia pun membalas genggaman itu tak kalah eratnya, dari raut wajah aulia terlihat jelas bahwa aulia bahagia memiliki dewa, begitu juga sebaliknya.
Perjuangan dewa, dalam pertarungan nya mendapat kan aulia ternyata tak sia-sia, kini saat nya dewa menuai hasilnya.
Dengan menjaga aulia setulus hati, menyayanginya, dan mencintainya.
Dewa, pernah berjanji jika dia mampu
Memiliki aulia, maka dia 'kan selalu menjaga aulia, dan selalu menyayanginya tanpa jeda sedikit pun.
Karna baginya aulia adalah hadiah paling indah dan terindah yang pernah dia dapatkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar