Menjelang sore sebuah mobil jazz berwarna merah berhenti disebuah gerbang kampus. Dua orang wanita keluar dari mobil itu, seorang wanita yang dengan gaya yang serba lelakian dan terlihat sangat maskulin. Dan satu-nya sangat feminim sekali dengan rambut-nya yang panjang dan tergerai dengan indah.
Kedua wanita cantik itu adalah dewa dan ela. Dewa, yang sebelum-nya sering datang kekampus ini,sendiri, namun hari ini dia tidak sendiri, dia ditemani oleh Ela. Hari ini terlihat sedikit berbeda, dewa yang biasa-nya datang sendiri tapi kali ini dewa, tidak sendiri, beda bukan?. Namun yang tidak berbeda hanya satu dan tidak akan pernah menjadi beda, karna hal itu akan tetap menjadi hal yang sama. Hal yang menjadi alasan bagi dewa, ‘tuk tetap datang kekampus ini, kedatangan dewa, tetap dengan alasan yang sama, menjemput andin, hanya itu yang tidak berbeda hari ini.
“jadi lu benaran suka sama yang nama-nya aulia itu wa?”
“ya begitu lah el.”
“ya gue, lihat dia memang cantik, kata andin dia juga baik, ramah lagi.”
“ya el, aulia memang cantik, tapi bukan cantik-nya saja yang gue lihat.”
“hmm… kalau lu sampai jadi sama dia, lu beruntung banget dah wa, dapat cewek secantik itu.”
“siapapun yang mendapatkan aulia, pasti-nya orang itu merasa jadi sangat beruntung el.”
“tapi apa lu yakin?”
“Dengan apa el?”
“ya dengan perasa’an lu itu.”
“ya yakin lah el, gue suka sama aulia, dan gue juga sayang sama dia el.”
“kalau begitu dekati dia lebih jauh lagi dunk. Gue dan andin, dukung lu kok. Tapi jika aulia nyakiti lu, kami tidak akan tinggal diam.”
“hehe… makasih ya el, gue yakin dia gak akan nyakiti gue.”
“ya sama-sama bos.”
Dari kejauhan terlihat ada sebuah mobil yaris berwarna putih berhenti tidak jauh dari mereka, dan orang yang ada didalam mobil itu sedang memerhatikan mereka berdua.
Dewa……… senyuman yang diikut sebuah suara yang menyebutkan nama dewa, itu ternyata adalah aulia, si gadis cantik yang disukai oleh dewa. Tapi sayang-nya aulia tidak tau tentang hal itu.
Hal itu masih saja menjadi rahasia, karna dewa belum siap mengungkap kan perasaan-nya itu pada gadis ini, entah sampai kapan dewa akan menyimpan rahasia itu.
Aulia, masih ditempat yang sama masih memandagi dewa dari kejauhan, ada apa dengan aulia? Mengapa dia diam-diam seperti ini seperti mata-mata saja. Tiba-tiba saja aulia menghelas napas panjang dan berkata. Ya tuhan… mengapa ku merasa tergoda oleh dewa? Tolong aku, Bantu aku ya tuhan, kuatkan hati ku agar ku tidak tergoda oleh wanita itu. Begitu ucap aulia pada sang penguasa, semoga sang penguasa mendengar kan kata-kata ku, gumam aulia pelan.
10 menit kemudian andin, terlihat sedang berjalan mendekati mereka berdua dengan senyuman yang manis, seperti-nya jam kuliah-nya telah berakhir.
“Hai sayang…” sapa andin, pada ela, dan memberi satu tepukan ringgan dibahu dewa.
“Hmm… tumben cepat, biasa-nya lama kata dewa.”
“Karna aku tau kamu ikut menjemput ku maka-nya ku cepatkan agar kamu tidak menunggu lama, kalau dewa yang nunggu ya masa bodoh aja, toh itu kan Cuma alesan dia aja.” Andin menceloteh dengan cepat-nya sambil melirik kedewa.
“Huuuu ngombal ngembel lu, biar kata itu Cuma alesan tapi lu-nya nyampai juga kan dirumah karna gue?” balas dewa tak mau kalah.
“oalah… malah ribut, ini target-nya mana?” Tanya ela pada dewa dan andin.
“Target? Target apa sayang?” andin balik bertanya.
“eh iya, aulia mana ndin? Itu maksud bini mu dodol.”
“Aulia? Dia udah keluar dari tadi kali sebelum kalian datang dia udah keluar duluan. Katanya mau kejogja hari ini. Jadi dia buru-buru pulang lagian jam kedua dia tadi kosong wa. Kenapa gak lu sms aja tadi.” Saran andin.
“Engga akh, kalau memang dia lagi dalam perjalanan kejogja, gak akh, entar gara-gara sms gue, konsentrasi-nya keganggu lagi. Emang ngapai lia, ke jogja? Jemput adek-nya? Kan belum waktu-nya anak sekolah libur.”
“Nanti aja deh aku ceritai. Sekarang kita kemana nih? Mau pulang atau makan dulu?”
“Kita pulang aja ya, aku udah masak tadi. Sebelum dewa menjemput aku.”
“Ya udah, kalau begitu kita pulaaaaaaaaaaaaaaaaanggg..” teriak andin ditelinga dewa. Tapi dewa hanya memberi isyarat tanda setuju dan dewa pun mengikuti langkah sepasang kekasih itu yang posisi-nya ada didepan dewa. Dewa bermain tebak-tebakan dengan hati-nya, menebak apa yang akan diceritakan andin nanti sesampai-nya mereka dirumah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar