Pagi ini dewa, bangun lebih awal dari biasanya. Dewa terbangun bukan karna dia ada janji pagi ini tapi karna keributan yang terjadi diluar kamar-nya.
Huft……… pagi-pagi sudah ada yang perang. Kapan sih tenang-nya. Ucap dewa dalam hati-nya.
Dibuka-nya gorden penutup jendela itu dan hendel jendela pun dibukakan-nya sekaligus. Maka udara sejuk pagi itu pun masuk kedalam kamar dan sejuk-nya menyapa wajah dewa.
Diraih-nya bungkus rokok yang ada di atas TV dan diambil-nya sebatang lalu dewa pun mulai mengisap-nya secara berlahan, dan menikmati setiap nikotin yang terisap oleh-nya. Sarapan pagi dewa, s’lalu saja diawalin dengan sebatang rokok dan segelas air putih.
Hening… didalam kamar namun ricuh diluar kamar. Tapi dewa, tak mau ambil pusing, dia coba bersikap acuh dan diam disebuah sudut yang ada dikamar-nya, dan hanya mendengarkan kericuhan itu.
Tak bisakah rumah ini aman satu hari saja? Kapan ku dan adik-adik ku merasa kan nyaman dirumah ini? Kenapa mereka selalu saja menjadikan masalah-masalah itu sebagai ajang pertengkaran? Menurut ku bukan kah mereka sudah cukup dewasa.tapi mengapa selalu saja permasalahan itu berujung dengan pertengkaran.
Kalau saja nenek ada disini pasti suasana rumah ini terasa dingin, tidak seperti neraka begini selalu panas. Ya tuhan sampai kapan keluarga ini begini.
Kembali pada beberapa tahun yang lalu, yang dimana saat itu umur ku baru 10 tahun. Ku yang saat itu memang belum mengerti banyak hal. Tapi ku tau pagi itu sama seperti pagi ini dan pagi-pagi yang lain-nya yang pernah ku lewati.
Pagi itu ku sudah rapi dengan seragam merah putih ku. ya saat itu ku masih kecil, ku masih duduk disekolah dasar.
Sepatu sudah ku kenakan dikaki-ku. tas sudah ku sandang dipunggung ku. namun pagi itu hati ku merasa kan ketakutan karna pertengkaran mereka.
Rasanya kuingin dirumah saja menemani mamah, kalau-kalau mamah menangis dan butuh teman.tapi alasan apa yang akan berikan pada mereka agar ku tak masuk sekolah hari ini.
“Sudah siap nak?” Tanya ayah ku sambil membelai rambut panjangku. Waktu umur ku 5 tahun rambutku pendek tapi saat umur ku 10 tahun rambut ku kembali panjang, sepinggang. Tidak seperti saat ini rambut ku sangat pendek, seperti laki-laki ya nama-nya juga butchy.
“Udah yah.” Jawab ku pelan.
“Kalau begitu berangkatlah nanti terlambat.”
“Iya, yah.”
“Kamu kenapa kak? Pucat begitu wajah-nya, tidak enak badan? Kalau sakit sebaik-nya kamu ijin dulu hari ini.”
Aku tidak tau harus menjawab apa. Menjawab ya atu tidak. Jika ku menjawab ya, mungkin ini kesempatan ku untuk menemani mamah. Tapi seperti-nya pertengkaran itu sudah berakhir, mungkin aku akan menjawab tidak dan ku akan tetap berangkat sekolah hari ini.
“Engga yah, kakak sehat kok.”
“Ya sudah, berangkat lah.”
“Iya yah.” Ku salim tangan lelaki itu dan wanita itu dan kakipun melangkah pergi meninggalkan rumah. Namun baru saja langkah ku mendekati langkah yang ke10 ku kembali mendengar pertengkaran itu.
Jantung ku berdetak sangat kencang mendengar itu, bentakan itu, ku merasakan lemas dibagian dengkul ku, saat mendengar-nya. takut kembali menyelimuti ku. ku hentikan langkahku dan memutar arah mendekati sebuah pohon yang lumayan besar dan bersembunyi dibalik pohon itu sambil mengintip kerumah.
Ku tidak tahan mendengar pertengkaran itu walaupun tak begitu jelas yang ku dengar namun tetap saja ku tak suka itu dan takut akan itu. Ku keluar dari persembunyian ku dan berlari, kembali kearah rumah sampai didepan rumah ayah bertanya padaku.
“Kenapa kak, kok balik lagi sayang?” Tanya ayah.
“engga enak badan yah.”
“Apa ayah bilang, wajah mu pucat begitu.”
“Ya udah ganti baju-nya. Tidur saja tapi makan dulu dan minum obat-nya yang ada dilemari baju ya kak.” Kata mamah padaku.
“Iya mah.” Selesai melepaskan sepatu ayah menarik tangan ku agar mendekat dengan-nya dan ayah berkata.
“Ayah, berangkat kerja dulu ya? Kamu tidur ya, jangan main-main saja. Temani mamah ya.” Lalu ayah mencium kening ku. aku hanya mengganguk pelan ayah pun pergi setelah berpamitan padaku tapi tidak pada mamah.
Huft……………… dewa, kembali menghela nafas yang panjang, menggingat kejadian yang lalu dan kejadian-kejadian yang lain-nya. Rasa-nya ku hidup dalam sebuah kisah yang tak berujung. Karna disetiap inci kehidupan yang ku lewati semua itu terlihat sama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar