Rabu, 03 November 2010

Wanita itu, itu Aulia


Hari ini cuacanya sangat terik sekali. Tapi anak-anak kecil itu tidak merasa terganggu sedikitpun oleh terik-nya sinar matahari siang ini. Mereka masih saja terlihat asik dengan permainan-nya, lari kesana dan lari kesini mengejar bola.

Aku fikir, jika aku ikut bermain dengan mereka, mungkin yang pertama kali pingsan dilapangan itu adalah aku. Bukan hanya karna terik-nya matahari saja tapi karna kondisi tubuh ku yang saat ini memang belum sembuh total.

Kedatangan andin dan aulia kemarin  memang berdampak baik bagiku, bagaimana tidak karna sebenarnya ku juga berharap aulia datang menjengguk-ku. dan andin yang sangat mengerti hatiku, dia datang membawa obat termanis kemarin siang.

Benar kata andin, aulia memang obat termanis bagiku, tidak seperti obat yang diberi kan dokter, rasanya sangt  pahit ditenggorokan ku.

Aulia……… nama itu disebutkan lagi oleh dewa. Kenapa ku bisa menyayangi gadis itu, pahadal aku tau persis, kalau aulia tidak lah memiliki rasa yang sama dengan ku.

Aku ingin aulia tau, tapi ku juga takut dia murka padaku. Sampai kapan rahasia ini ku simpan. Rahasia hati untuk wanita, wanita itu, itu aulia.

“Dewa, tar aku sama Ela kesana ya? Ela, mau ketemu kamu katanya”

“Kapan dia sampai di Indonesia? Iya deh aku tunggu ya?”

“Tadi gan, ya udah, kamu mau dibawain apa gan?”

“Aulia.”

“Wah, permintaan-nya keren banget gan, ya sudah istirahat lagi sana, tar aku bawain pesanan-nya gan.”

“Iya, aku tunggu ya.”

Matahari terlihat sedikit tergelincir keupuk barat saat Andin dan ela sedang berpelukan. Dimana Ela yang saat itu baru saja pulang dari Malaysia tadi siang memutuskan langsung menggunjungi kost’an Andin.

“Kamu istirahat dulu gih sayang, nanti saja kita ketempat dewa. Kamu masih cape, butuh istirahat.” Kata andin, pada wanita-nya dan membelai rambut ela.

“Emang-nya dewa, sakit apa sih yank?”

“Biasalah penyakit-nya bertingkah lagi sayang.”

“Memang-nya dewa, gak jadi operasi yank?”

“Kamu tau dewa kan sayang? Bagaimana dia? Keras kepala banget kan? Susah buat membujuk dia untuk melakukan pengobatan itu.”

“Iya aku tau, tapi itu kan demi kebaikan dia juga yank.”

“Ya itu dia yank, itu memang buat kebaikan-nya tapi ya otak-nya dia itu keras kayak batu jadi susah dia ajak bicara, nantilah ku coba lagi bicara pada-nya. Ya udah sekarang kamu istirahat dulu sayang, tidur bentar. Baru tar kita ketempat dewa.”

Andin kembali membelai rambut ela yang panjang dan terlihat sangat indah. Lalu memberikan ciuman hangat dibibir wanita-nya itu dan tindakan itu disambut sangat hangat oleh ela dan ela pun membalas-nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar