Kamis, 28 Oktober 2010

Straight


Siang itu mereka hanya berdua saja di sebuah kanti kampus tempat mereka melanjutkan study-nya. Andin dan aulia, duduk dalam satu meja dengan 2 mangkok mie ayam dan 2 teh botol.


“Eh iya ndin, sudah 3 hari ini gue, liat lu gak di jemput, kemana sopir setia mu itu?”

“Dewa?” Tanya andin, memasti kan.

“Iya dewa.”

“Lagi sakit dia cin, makanya gak nonggol. Hmm… lu kangen ya sama dewa?”

“Ikh ngaco, gak lah. Tar gue, benaran kangen sama dewa, lu cemburu sama gue.”

“Ha? Cemburu? Lu kali yang ngaco. Gue kasih tau nih ya, gue sama dewa itu sahabatan. Dewa itu sahabat the best gue.”

“masaaaaaaaa sih? Habis-nya setia banget, hampir setiap hari dia ngejemput lu.”

“Nama-nya juga sahabat cin.”

“Sapa tau, sahabat jadi kekasih.”

“Saraph lu.” Andin melempari aulia, dengan tisu.

“Hahahahah, jangan sewot gitu atuh jeng.”

“Lagian lu ngocol gitu. Gue, mau nanya dunk cin.”

“Hmmm… apa?”

“Lu tau ya kalau dewa itu Butchy?”

“Hehehe, kirain mau nanya apa lu. Iya lah gue tau, gue bukan orang awam kali cin.”

“Jadi lu juga tau dunk tentang dunia Lines?”

“Tau lah. Gue dulu-nya sama kali ma lu berdua.” Ucap aulia, dengan santai sembari menyedot habis minuman-nya sampai keakar-akarnya.

“Ha? Are you really?”

“Yeah, dia malah jadi bule. Iya gue serius. Tapi gue udah straight.”

Andin tercenggak mendengar jawaban aulia, barusan. Percaya tidak percaya dan apakah semudah itu melalukan Straight. Jika iya, mengapa sulit buat gue ya? Padahal gue, pernah mencoba-nya 2tahun yang lalu, saat gue, benar-benar merasa hancur karna ulah Leony, Butchy asal Jakarta itu. Dan usaha gue, untuk straight itu gagal. Saat dewa ngenalin gue, dengan Ela seorang Fem asal Tanggerang. Dan apakah mereka para wanita yang sudah straight itu benar-benar telah lepas dari dunia belok? Dan Bukakah tidak menutupi kemungkinan saja mereka akan kembali lagi kan?

Andin, menggeleng-geleng kan kepala-nya.

Sakit Atau Rindu


Akh kenapa pagi ini ku terbaring sakit seperti ini. Padahal hari ini ada janji dengan mas raffi, mau mancing bareng. Gatot dah tu rencana akh payah ini, giliran mau senang-senang malah sakit begini.

“Dewa, dewa, sampai kapan kamu mau menunggu aulia? Buat mengatakan suka saja kamu gak sanggup wa, eh sekarang malah sakit begini, ini sakit apa kangen sama aulia wa?” ledek andin pada ku pagi ini dia datang menjenguk ku karna sms ku tadi.

“Sialan lu, malah ngeledek.”

“nih makan dulu, biar gak lemes itu badan.” sepotong roti berselai choklat, buatan andin pagi ini.

“Makasih.”

“Ayo dunk wa, masa Butchy pengecut gitu. Kalau kamu tidak mencoba kamu tidak akan tau hati aulia bagaimana.”

“Tapi ndin, aulia itu kan gadis normal tidak seperti kita ini.” kata ku mulut-ku penuh dengan potongan roti tadi.

“hehhehee, tau dari mana kamu?”

“Ya kemarin juga kita bahas to? Kamu dan aku tidak tau dia belok atau tidak.”

“itu kan kemarin sekarang beda wa.”

“maksud-nya beda?”

“kemarin aku ngobrol dengan-nya di kantin.”

“so?”

“So, aku sedikit mendapat gambaran tentang dia.”

“apa tuh?”

“Kemarin itu waktu aku di kantin aku sempat minjam Hp-nya buat sms kamu.”

“Trus? Tapi gak ada tu sms yang masuk.”

“Ikh dengar dulu nyet.”

“Hmmm, apa?”

“Ya waktu aku mau ngirim pesan ke kamu itu aku buka list contact-nya dia, dan tau gak apa yang aku lihat?”

“Apa emang?”

“DEWA BUTCHY, nomor kamu di save dengan nama itu di Hp-nya dia.”

“What? Serius lu?” Piring kecil tempat roti tadi jatuh kesamping karna aku spontan duduk, dari sandaran ku tadi karna kaget.

“Oalah biasa aja kali wa, expresi-nya, jangan segitu-nya juga kali, sampai ngedubrakan gini itu piring.”

“Eheheheheh sorry gan, kaget aku. Terus menurut kamu itu tanda-nya apa?”

“Menurut Gue, eh aku tanda-nya dia tau kalau kamu itu seorang butchy, so kamu gak perlu takut lagi dia menjauh kalau-kalau dia tau kamu itu belok, karna sebenarnya dia tau. Itu bukti-nya."

“Okelah, anggap lah aku selamat dari hal yang satu itu, iya kan? Tapi ndin, lum tentu juga kan dia belok?”

“iya sih tapi paling tidak kamu dapat level aman kan?”

“iya sih.”

“oke, sarapan udah aku buatin, teh juga udah, berita itu juga udah aku sampaiin, sekarang aku mau pulang.”

“Lah kok pulang, mang ada jadwal siang ini? Atau mau kencan ye?"

“Engga dodolz, sapa juga mau kencan Ela lagi kemalaysia, jadi aku duda dulu sekarang, eheheheh.”

“Oh seorang Andro juga bisa menduda ya, ahhahahhhah.”

“Iya lah nyet, ya udah aku pulang dulu ya, lekas sembuh lho.”

“iye, makasih ya bos.”

“ok, u’re welcome.”

DEWA BUTCHY? Dewa mengulang-ulang nama-nya itu yang da di Hp aulia, masa sih? Aku masih gak percaya. Tapi jika benar dia tau aku ini seorang butchy tanda-nya dia tau tentang dunia belok, tapi belum tentu juga dia belok, Dewa berulang-ulang kali mengaruk-garuk kepala-nya yang sebenarnya tidak gatal hanya saja bingung sebena-nya aulia belok gak sih?”

Ku rindui senyumanmu


Pukul 15.45
Ku telah sampai di kampus andin. Kembali berdiri dan menunggu di gerbang ini. Menunggu seseorang yang senyuman-nya ku rindukan. Tapi orang itu bukan andin, namun orang lain. Senyum yang kurindu kan itu adalah senyuman aulia, hanya dia yang memiliki senyuman itu, senyuman yang mampu membuat ku merindui-nya.

Aku rela menunggu berjam-jam di sini dengan alasan menjemput andin, itu adalah alasan terhebat yang ku punya, tuk tetap dapat datang kekampus ini dan menikmati indah-nya senyuman seorang gadis yang bernama aulia itu.

“Ehem…… setia banget sih.” suara itu mengejutkan ku. ku terdiam takjub melihat orang yang sedari tadi ku sebut-sebut nama-nya kini ada dihadapan ku dengan senyuman indah-nya.

“Woiiiiiiiiiiiiiiiii, di omongin malah melamun.”

“Eh iya. Sorry… sorry… kenapa?”

“Idih sore-sore gini ngelamun. Di gerbang kampus lagi.”

“Hehehehe.” Ku hanya tertawa kecil berharap tawa itu dapat membantu ku menutupi sikap malu dan kikuk-ku sore ini.

“Andin, bukan-nya udah pulang ya?”

“ha? Udah pulang? Sama siapa dia? Bukan-nya hari ini sampai sore?” Tanya ku pada aulia memastikan jadwal kuliah andin hari ini.

“Seharus-nya sih begitu. Tapi nyata-nya kosong. Tadinya andin sama gue di kantin, tapi tadi dia dapat telpon langsung aja gitu buru-buru keluar.”

“Oh gitu?”

“He’eh… Emang-nya dia gak ngabari lu gitu?”

“Engga tuh.” Sialan sih andin pulang bukan-nya bilang-bilang, tau gitu gue gak kesini, malu kali sama aulia. Walaupun itu menjemput-nya itu hanyalah sebuah alasan tapi paling tidak buat malu gini.

“Mungkin dia sibuk kali wa.”

“mungkin. Hmm… kalau begitu bagaimana kalau kamu saja yang ku antar pulang?”

“Seperti-nya kali ini aku akan menolak lagi wa.”

“Kenapa begitu? Ada yang jemput ya?”

“Engga sih, aku sendirian kok. Tapi aku bawa mobil noh.” sambil menujuk mobil-nya yang ada diparkiran.

“Oh begitu, ya udah gak apa-apa kalau begitu.”

“Anda masih punya hari esok, untuk mengantarkan saya pulang
Eheheheheh.” Chanda-nya.

“Oke, gue tunggu hari itu, eheeeheh.”

“kalau gitu, gue duluan ya wa.”

“oh iya mari,hati-hati lho neng.”

“Beres gan.”

Lagi-lagi dewa, hanya mampu memandangi langkah kaki aulia yang kembali meninggalkan-nya sendiri. Ya tuhan……… sampai kapan rasa ini mampu hamba pendam.

“DASAR PENGECUT.” Dewa memaki diri-nya sendiri.

Rahasia "tuk Aulia

“Hai aulia.”

“Hai wa.”

“Mau pulang?”

“Iya nih, lagi nunggu andin ya?”

“Iya, lu liat gak.”

“Tadi sih gue, lihat dia udah jalan keluar wa.”

“Oh ya udah. Pulang sendiri aja nih?”

“He’eh, kenapa mau nganteri gue pulang?” senyuman-nya itu kerap kali membuat ku salting

“Hehehehe, kalau mau mari gue anter?”

“Chanda kali wa, engga usah deh gue sendiri aja.”

“Kalau benaran juga gak apa-apa, gue anterin sampai depan pintu kamar lu.”

“Hahahaah maksud looooooo? Engga deh, nanti andin, cemburu lagi sama gue, lain kali mungkin boleh lah.”

“Cemburu? Ya engga lah, ada-ada aja lu.”

“hehhehe, ya udah. gue pulang dulu ya wa?”

“Ok. Hati-hati lu.”
“Yups”.

Gadis itu sedikit demi sedikit menghilang dari pandangan ku yang tertinggal hanya aroma parfum-nya yang sangat lembut. Selembut pemilik-nya.

Jujur aku s’lalu canggung setiap kali bertemu wajah dengan aulia. S’lalu saja seperti itu, tatapan mata-nya terkadang membuat dengkul ku terasa lemas. Ku akui aulia gadis yang cantik, wajar saja jika banyak lelaki yang suka pada-nya, termasuk aku.

Namun aulia? Tidak mungkin menyukai-ku.
Bisa-bisa gadis yang bernama aulia itu akan menjauhi ku jika dia tau aku menyukai-nya.

Huuuffffttt…………… ku menghela napas panjang. Saat ku menemui wajah ayu yang dimiliki oleh aulia itu datang dan hadir memenuhi ruang khayal-ku. apa yang terjadi ya? Jika aulia tau ku menyukai-nya.

“Kamu, pasti di gampar wa, gamparan yang dahsyat dengan sebuah buku yang memiliki 700 ratus halaman. Wah iso modar kowe wa.” kata andin dengan mimic wajah yang sedikit aneh.

“Kalau Cuma di gampar dengan buku setebal itu buat aku gak masalah. Sakit-nya gak ku fikirkan ndin. Tapi bagaimana jika bukan hal itu yang terjadi?”

“Lantas apa dunk?”

“Kalau aulia tau, terus dia menjauh dari aku. Itu yang aku fikirkan ndin.”

“hmm…… kalau begitu aulia tidak perlu tau. Bereskan? Dan sebenar-nya Fem itu banyak wa.”

“Kalau aku mau-nya aulia gemana?”

“Dewa, lu gak tau kan aulia itu belok atau tidak?”

“Memang tidak.”

“Nah itu dia masalah-nya nyet. Kita tidak tau aulia itu belok atau tidak? Menurut aku nih ya. Sebaik-nya aulia tidak perlu tau, kalau kamu itu suka sama dia. Dari pada dia tau terus menjauh dari kamu, kamu juga to sing susah?”

Ucapan andin ada benar-nya juga. Tapi mau sampai kapan aku menyembunyikan perasaan ini?









Huft………………………………………………………………

Ketika Aku


Ketika ku tak dapat memilikimu
Remuk lah jantungku
Lebur lah jiwaku
Ketika cemburumu menguras hatimu
Hancur lah segalanya
Musnah lah semuanya
. . .
Dapat kah kau rabai hatiku
Bisa kah kau sentuh jiwaku
Ada dirimu disudut hatiku
Ada dirimu disudut jiwaku
. . .
Harus kah ku sendiri
Tanpamu
Harus ku terluka lagi
Tanpa cintamu
Kau jauh diseberang sana
Dan ku disini
Menanti kau menerimaku
Disudut hatimu
. . .
Dunia, mengapa ku tak dapat membenarkhan rasaku
Alam, mengapa ku tak dapat menyalahkhan
Kecemburuan itu
Rasa itu begitu gila menyiksa
Hancurkhan segalanya
Musnahkhan semuanya
Sadarkah dirinya tentang segalanya. . .????
Dunia, mengapa saat hamba ingin
Mencintanya, cinta itu ingin pergi. . .????
Alam, mengapa saat hamba ingin memilikinya
Cinta itu tak ingin hamba miliki. . .????
. . .
Mengapa ketika segalanya
Begitu tinggi kian meninggi
Aku kembali terhempas lagi. . .????
Mengapa ketika rasa
Begitu tulus kian tulus
Aku kembali terlukai. . .????
. . .
Dan ketika segalanya hilang
Ku bertanya
Boleh kah aku ikut menghilang
Dari dunia ini. . .????

Jatuh Cinta Lagi


Aku jatuh cinta lagi
Pada seorang perempuan bermata indah
Yang sering membuatku mencuri pandang
Dan merasakan sensasi itu hadir setiap saat
Merasakan aliran listrik yang berkumpul dikepalaku………..
Menguasai diri dan membuat medan magnet disekelilingku
Dengannya aku bahagia, tanpanya aku merasa sepi, dan terus ingin bersamanya……..
Aku tak lagi berpikir tentang hal lain selain dia
Medan magnet inikah yang membuatku percaya bahwa aku jatuh cinta lagi???