Siang itu mereka hanya berdua saja di sebuah kanti kampus tempat mereka melanjutkan study-nya. Andin dan aulia, duduk dalam satu meja dengan 2 mangkok mie ayam dan 2 teh botol.
“Eh iya ndin, sudah 3 hari ini gue, liat lu gak di jemput, kemana sopir setia mu itu?”
“Dewa?” Tanya andin, memasti kan.
“Iya dewa.”
“Lagi sakit dia cin, makanya gak nonggol. Hmm… lu kangen ya sama dewa?”
“Ikh ngaco, gak lah. Tar gue, benaran kangen sama dewa, lu cemburu sama gue.”
“Ha? Cemburu? Lu kali yang ngaco. Gue kasih tau nih ya, gue sama dewa itu sahabatan. Dewa itu sahabat the best gue.”
“masaaaaaaaa sih? Habis-nya setia banget, hampir setiap hari dia ngejemput lu.”
“Nama-nya juga sahabat cin.”
“Sapa tau, sahabat jadi kekasih.”
“Saraph lu.” Andin melempari aulia, dengan tisu.
“Hahahahah, jangan sewot gitu atuh jeng.”
“Lagian lu ngocol gitu. Gue, mau nanya dunk cin.”
“Hmmm… apa?”
“Lu tau ya kalau dewa itu Butchy?”
“Hehehe, kirain mau nanya apa lu. Iya lah gue tau, gue bukan orang awam kali cin.”
“Jadi lu juga tau dunk tentang dunia Lines?”
“Tau lah. Gue dulu-nya sama kali ma lu berdua.” Ucap aulia, dengan santai sembari menyedot habis minuman-nya sampai keakar-akarnya.
“Ha? Are you really?”
“Yeah, dia malah jadi bule. Iya gue serius. Tapi gue udah straight.”
Andin tercenggak mendengar jawaban aulia, barusan. Percaya tidak percaya dan apakah semudah itu melalukan Straight. Jika iya, mengapa sulit buat gue ya? Padahal gue, pernah mencoba-nya 2tahun yang lalu, saat gue, benar-benar merasa hancur karna ulah Leony, Butchy asal Jakarta itu. Dan usaha gue, untuk straight itu gagal. Saat dewa ngenalin gue, dengan Ela seorang Fem asal Tanggerang. Dan apakah mereka para wanita yang sudah straight itu benar-benar telah lepas dari dunia belok? Dan Bukakah tidak menutupi kemungkinan saja mereka akan kembali lagi kan?
Andin, menggeleng-geleng kan kepala-nya.





