Kamis, 28 Oktober 2010

Ku rindui senyumanmu


Pukul 15.45
Ku telah sampai di kampus andin. Kembali berdiri dan menunggu di gerbang ini. Menunggu seseorang yang senyuman-nya ku rindukan. Tapi orang itu bukan andin, namun orang lain. Senyum yang kurindu kan itu adalah senyuman aulia, hanya dia yang memiliki senyuman itu, senyuman yang mampu membuat ku merindui-nya.

Aku rela menunggu berjam-jam di sini dengan alasan menjemput andin, itu adalah alasan terhebat yang ku punya, tuk tetap dapat datang kekampus ini dan menikmati indah-nya senyuman seorang gadis yang bernama aulia itu.

“Ehem…… setia banget sih.” suara itu mengejutkan ku. ku terdiam takjub melihat orang yang sedari tadi ku sebut-sebut nama-nya kini ada dihadapan ku dengan senyuman indah-nya.

“Woiiiiiiiiiiiiiiiii, di omongin malah melamun.”

“Eh iya. Sorry… sorry… kenapa?”

“Idih sore-sore gini ngelamun. Di gerbang kampus lagi.”

“Hehehehe.” Ku hanya tertawa kecil berharap tawa itu dapat membantu ku menutupi sikap malu dan kikuk-ku sore ini.

“Andin, bukan-nya udah pulang ya?”

“ha? Udah pulang? Sama siapa dia? Bukan-nya hari ini sampai sore?” Tanya ku pada aulia memastikan jadwal kuliah andin hari ini.

“Seharus-nya sih begitu. Tapi nyata-nya kosong. Tadinya andin sama gue di kantin, tapi tadi dia dapat telpon langsung aja gitu buru-buru keluar.”

“Oh gitu?”

“He’eh… Emang-nya dia gak ngabari lu gitu?”

“Engga tuh.” Sialan sih andin pulang bukan-nya bilang-bilang, tau gitu gue gak kesini, malu kali sama aulia. Walaupun itu menjemput-nya itu hanyalah sebuah alasan tapi paling tidak buat malu gini.

“Mungkin dia sibuk kali wa.”

“mungkin. Hmm… kalau begitu bagaimana kalau kamu saja yang ku antar pulang?”

“Seperti-nya kali ini aku akan menolak lagi wa.”

“Kenapa begitu? Ada yang jemput ya?”

“Engga sih, aku sendirian kok. Tapi aku bawa mobil noh.” sambil menujuk mobil-nya yang ada diparkiran.

“Oh begitu, ya udah gak apa-apa kalau begitu.”

“Anda masih punya hari esok, untuk mengantarkan saya pulang
Eheheheheh.” Chanda-nya.

“Oke, gue tunggu hari itu, eheeeheh.”

“kalau gitu, gue duluan ya wa.”

“oh iya mari,hati-hati lho neng.”

“Beres gan.”

Lagi-lagi dewa, hanya mampu memandangi langkah kaki aulia yang kembali meninggalkan-nya sendiri. Ya tuhan……… sampai kapan rasa ini mampu hamba pendam.

“DASAR PENGECUT.” Dewa memaki diri-nya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar