Waktu itu telah berlalu..
Kesalahpahaman itu telah terselesai khan.
Tepukkan sebelah tangan itu sudah tak lagi berbunyi pelan.
Karna kini yang bertepuk bukan hanya sebelah tangan,
Tapi kedua tangan.
Yang artinya cinta itu terbalaskan.
Dewa bahagia karna cintanya diterima oleh aulia.
Dan sebenarnya aulia juga mencintai dewa.
Dan dewa bahagia saat tau tentang itu.
Meski dy tau cinta itu belum seutuhnya menjadi miliknya.
Sakit jadi selingkuhan?
Mungkin ya.
Tapi dewa tak hiraukan itu, karna dia sungguh mencintai aulia.
"Wah.. Yg udah jadian bawa'annya mesra mulu ya?"
Kata andin menggagetkan dewa dari belakang.
"Akh sirik aja lu ndin."
"Ahaha.. Bukan sirik,
tapi seneng aku liatnya,
aku ikut bahagia liat kalian bahagia, yang langgeng ya?"
"Insyaallah." Jawab dewa dan aulia bersama'an.
"Ciiiieee.. Kompak euy..
Beneran dah lu berdua serasi, eheheh."
"Iya dunk." Jawab aulia sembari mencium pipi dewa.
"Eh si ela kapan balik semarang?"
"Lum tau aku, masih sibuk kuliah dianya,
Padahal aku dah kangen banget sama dia."
"Oalah ngenese rek, sabar,
sabar duda sebentar aja kok masa gak tahan, tahani donk."
"Ya aku, juga sabar kok."
Andin, terdiam dan tanpa sadar air matanya jatuh berlinang,
fikirannya melayang jauh kenegri jiran,
di mana saat ini wanita tercintanya,
tengah melanjutkan study nya di negri jiran tersebut.
Kerinduan itu menyiksa nya,
kerinduan yang teramat sangat,
padahal baru 3 bulan Ela,
meninggalkan nya di indonesia
Dan berangkat kemalaysia,
namun rasa rindu itu sudah datang kembali melukai nya.
"Wooooiii.. Jangan cengeng gitu dunk,
jelek lu gitu." Sergah dewa
"Sumpah, aku kangen banget sama ela."
"Ya, iya kita ngerti kok ndin." Kata aulia
"Pengen aku susulin aja rasa nya,
kalau fikiran setan aku datang gak mikir panjang lagi."
"Dia disana kan melanjutkan study nya,
lu kudu dukung ndin, kasih semangat,
jangan lemah karna diserang rindu,
kasih juga dia kekuatan. Gue,
yakin dia juga ngerasa apa yang lu rasa."
" Iya wa, aku 'kan berusaha lebih kuat lagi buat dia.
Jarak ini memang nyakiti wa.
Tapi ya benar kata lu, aku kudu kuat."
"Gitu dunk, itu baru namanya sahabat gue,
saudara ku, adek saya. Ahahahahahahaha."
Dewa berusaha menghibur andin
"Prrrreeeettt.. Eh wa, besok lu jadi traphy?"
"Ssssttt.. Apa'an si ndin? Gue,
dah bilang jangan nanya-nanya itu diluar rumah."
"Iya, iya maaf, kelepasan aku."
Wajah andin, berubah murung.
Dan setelah itu aulia bersuara,
bertanya tentang traphy yang di ucapkan andin tadi.
"Traphy apa nyet? Emang kamu sakit apa? Kok aku gak tau?"
"Engga sakit apa-apa sayank,
bukan aku kok, sepupu aku itu.
Jadi rencana nya besok aku sama andin mau nemenin dia sayank."
"Yakin? Engga bohong gitu?"
"Yakinlah, tanya aja andin dah sayank, iya kan ndin."
Dewa menepuk paha andin,
membuat andin kaget dan jawaban nya sedikit gugup.
"Iya tu, iya."
"Hmmm.. Aku boleh ikut?"
"Ha? Ikut? Sayank mau ikut? Hmmm..
Sebaiknya jangan ya sayank?
Nanti kamu cape, biar aku sama andin aja."
"Jadi gak boleh ikut?"
"Bukan gak boleh sayank,
tapi ya sebaiknya jangan.
Besok selesai nemenin sepupu, aku jemput kamu dikampus, ok."
"Hmm.. Ya udah kalau gitu."
Huft..... Dewa menghela napas panjang,
merasa terselamat kan. Karna aulia mau mengerti.
Bisa gawat jika aulia ikut,
aulia bakal tau tentang penyakit dewa,
Dewa tidak mau aulia tau.
Alasan nya karna dewa, tidak mau aulia bersedih,
jika tau kalau dewa akan meninggalkan nya
karna penyakitnya itu.
Namun dewa, berusaha untuk sembuh,
dengan mengikuti traphy,
berharap penyakit itu bisa hilang secara berlahan.
Dewa sangat menyayangi aulia.
Dan
dia belum Siap mati dan belum siap meninggalkan aulia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar